- Tema ghaib
-
Mendorong orang untuk percaya bahwa ada makhluk selain jin dan
manusia, yaitu turunan setan seperti pocong, hantu, dan kuntilanak.
Padahal Allah menegaskan di dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan selain jin dan manusia. Allah berfirman
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Adz Dzaariyaat : 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Adz Dzaariyaat : 56
-
Menimbulkan kesyirikan dengan percaya kepada selain Allah. Dan
menyelesaikan masalah ghaib ini dengan perantara manusia yang memiliki
kemampuan supranatural.
-
Menakut-nakuti diri sendiri dengan bayangan setan (padahal manusia
adalah makhluk yang mulia dan disegani oleh bangsa jin). Dan lebih
menakuti setan dibandingkan dengan penjajahan baru dan siksa kubur Sang
Maha Pencipta.
- Tema Cinta
-
Mengecilkan persoalan hidup sesungguhnya. Seolah di dunia ini
masalah terbesar adalah persoalan cinta. Bagaimana tidak “kejam”,
masyarakat yang konon jika mengunakan standar kemiskinan dengan
pendapatan 2 $ sehari hampir setengah dari penduduk Indonesia ini
berada di bawah garis kemiskinan harus menyaksikan sinetron yang
menampilkan anak-anak muda yang memiliki segalanya (fisik proporsional
dan kekayaan yang melimpah). Konflik yang terjadi pun seputar cinta.
Padahal di Indonesia tema yang seharusnya diangkat adalah kondisi
realita bangsa ini, yaitu masalah KEMISKINAN. Agar masyarakat
dapat memiliki daya juang untuk memperbaiki kondisi perekonomian.
Bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Jeffrery Alexander di
dalam bukunya The Media in Systematic, Historical, and Comparative
Perspective yang dikutip dari buku Elihu Katz dan Szecsko Mass Media
and Social Change bahwa media menjadi refleksi atau gambaran lingkungan
sekitarnya. Sudut pandang yang diambil adalah peran media dalam
menginformasikan potret kondisi lingkungan dengan mengemas dengan
audio-visual tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenyataan berbeda
dengan kondisi realita yang ada.
-
Salah satu riset yang terkenal dari McQuail dan kawan-kawan di
Inggris pada tahun 1972 menemukan bukti bahwa orang yang melewati waktu
menikmati media adalah untuk lari dari kehidupan nyata yang pahit
(escape). Dan ragam escape ternyata bermacam-macam, berbeda menurut
pelapisan sosial, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan lain-lain.
-
Utopis. Bangsa kita diajarkan untuk berpikir singkat (instan).
Seolah ukuran kesuksesan seseorang diukur dari banyaknya harta yang
dapat terlihat dari rumah megah, mobil mewah, dan istri yang cantik.
Hal yang sering ditampilkan oleh sinetron adalah anak-anak muda dengan
penampilan necis yang memiliki “harta” melimpah, rumah megah, dan
memiliki posisi di puncak kariernya tanpa asal usul yang jelas. Dapat
dibayangkan apa yang terjadi dengan pemirsanya. Mereka hanya bisa
melihat dan bermimpi. Bangsa kita belum layak menerima kenyataan
seperti itu.
Kontraproduktif. Dengan melihat tayangan yang jauh dari kenyataan akan membuat produktivitas menjadi kontraproduktif. Ibu rumah tangga yang seharusnya membantu suami mereka meringankan beban hidup dibuai dengan mimpi dan keindahan dunia. Apa yang terjadi. Harapan tidak sesuai dengan kemyataan sehingga menimbulkan keputusasaan.
Kontraproduktif. Dengan melihat tayangan yang jauh dari kenyataan akan membuat produktivitas menjadi kontraproduktif. Ibu rumah tangga yang seharusnya membantu suami mereka meringankan beban hidup dibuai dengan mimpi dan keindahan dunia. Apa yang terjadi. Harapan tidak sesuai dengan kemyataan sehingga menimbulkan keputusasaan.
- Tema Religi
-
Maaf mengenai tema yang satu ini. Kita harus melihat secara
objektif. Sinetron religi lebih banyak mencampuradukan antara hikmah
dengan komersialisasi. Film yang mengambil tema ini sangat kental unsur
komersilnya. Bukti sederhana adalah pemeran di dalam sinetron tema ini
berperan sebagai “aktor” yang baik. Berperan sebagai “goodman” hanya
di dalam film tetapi setelah itu kembali kepada karakter semula bahkan
mencontohkan hal yang tidak pantas dipertontonkan di depan umum.
-
Film-film dengan tema ini sifatnya hanya mengejar profit semata
dengan minim perhatian terhadap pesan yang disampaikan. Banyak sisi
religi justru berbeda dengan ajaran agama itu sendiri. Sebagai contoh
adalah adegan-adegan di dalam film religi berlabel hikmah. Film
tersebut menampilkan balasan terhadap orang-orang yang telah berbuat
kemunkaran di dunia. Padahal siksaan bagi orang-orang yang berbuat
kemunkanran berada di akhirat. Artinya apa yang terjadi di dunia
merupakan ujian dan azab dan tidak azab tersebut tidak selalu sebuha
hubungan sebab akibat. Ada pula adegan yang menampilkan pegangan tangan
antara laki-laki dan perempuan bukan mukhrim.
Beberapa waktu lalu tak kurang dari 20 program sinetron tema religi tayang setiap minggunya. Stasiun berinisial R menampilkan “Pintu Hidayah” dan “Habibi dan Habibah”. Di stasiun T, ada “Rahasia Illahi” dan “Takdir Illahi”, di TV ada “Taubat”, “Hidayah” dan “Insyaf”. S tak ketinggalan dengan menayangkan “Astagfirullah”, “Kuasa Illahi”, ”Suratan Takdir”, dan “Kiamat Sudah Dekat”. Stasiun A menampilkan “Jalan ke Surga” dan “Nauzubillah Minzalik” dua kali sepekan. Sementara di I membawa “Titipan Illahi”. Ketika rating sinetron tema tersebut sudah tidak tinggi maka beralih ke tema lain yang sedang tinggi permintaannya. Hal ini membuktikan bahwa tidak adanya konsistensi untuk menyampaikan hikmah tetapi semata-mata hanya mengikuti tren untuk memperoleh keuntungan semata.
Pandangan Umum
Beberapa waktu lalu tak kurang dari 20 program sinetron tema religi tayang setiap minggunya. Stasiun berinisial R menampilkan “Pintu Hidayah” dan “Habibi dan Habibah”. Di stasiun T, ada “Rahasia Illahi” dan “Takdir Illahi”, di TV ada “Taubat”, “Hidayah” dan “Insyaf”. S tak ketinggalan dengan menayangkan “Astagfirullah”, “Kuasa Illahi”, ”Suratan Takdir”, dan “Kiamat Sudah Dekat”. Stasiun A menampilkan “Jalan ke Surga” dan “Nauzubillah Minzalik” dua kali sepekan. Sementara di I membawa “Titipan Illahi”. Ketika rating sinetron tema tersebut sudah tidak tinggi maka beralih ke tema lain yang sedang tinggi permintaannya. Hal ini membuktikan bahwa tidak adanya konsistensi untuk menyampaikan hikmah tetapi semata-mata hanya mengikuti tren untuk memperoleh keuntungan semata.
Pandangan Umum
-
Secara umum sinetron hanya menjual fisik tanpa kualitas peran.
Padahal insan seni adalah orang-orang yang menghargai karya seni dan
mengemas karya tersebut menjadi sebuah tampilan yang menarik. Tetapi
pada kenyataannya seni peran di dalam sinetron lebih mengedepankan
tampilan fisik pemeran bukan pada kemampuan seni peran aktor dan artis.
Sehingga kualitas sinetron menjadi tidak diperhatikan dan semata hanya
mengejar keuntungan semata. Banyak artis baru yang bermunculan tanpa
memiliki kualitas dan hanya bermodal tampang saja.
-
Mendorong masyarakat berperilaku konsumtif. Derasnya adegan yang
memberikan contoh gaya hidup mewah dan mengutamakan penampilan fisik.
-
Mengesankan bangsa Indonesia bangsa yang makmur dan suka kemewahan.
Konsep ini banyak diadopsi dari film-film India yang menampilkan
kegemerlapan di antara kemiskinan bangsa.
-
Tidak membawa budaya lokal bangsa atau pun budaya timur yang santun
dan memiliki etika dalam berbusana sehingga terkikisnya dengan gaya
busana barat yang terbuka.
Dampak secara umum
Lantas
nilai apa yang diperoleh oleh ibu rumah tangga yang menyaksikan
tayangan sinetron glamour dan gemerlap penuh kemewahan sedangkan
kondisi ekonomi mereka berbeda jauh dari tayangan tersebut. Alhasil
muncul sikap kontraproduktif dari pemirsa bahkan justru mendorong
budaya konsumerisme. Berbeda implikasinya dengan apa yang akan
diperoleh oleh remaja ABG. Kehidupan sebagian sinetron yang menampilkan
kehidupan yang seperti di atas membawa remaja ke dalam kehidupan
fantasi yang luar biasa, kehidupan dianggap mudah dan sederhana.
Seseorang memerankan tokoh eksekutif muda yang mapan dengan kekayaan
melimpah serta jabatan tinggi? Nilai apa yang bisa diambil dari peran
tersebut? Siapa yang dapat mencapai jabatan direktur dalam usia muda
dan memiliki harta sedemikian banyak selain bukan warisan? Kalaupun ada
kasus yang memang terjadi apakah cukup mewakili kehidupan rakyat
Indonesia. Remaja kita diajarkan bermimpi tanpa dorongan untuk bekerja
keras.
Sorotan
selanjutnya adalah konflik yang muncul bukanlah masalah kehidupan yang
primer, malah mengajarkan memilih berkorban demi cinta yang semu
seolah-olah hidup ini hanya untuk cinta tanpa perjuangan untuk hidup.
Implikasi logis dari hal tersebut menimbulkan apakah kita belajar untuk
menderita atau mencoba untuk menderita. Tetapi konflik yang muncul
malah seputar interaksi sosial manusia yang itu-itu saja. Bukan ingin
mengecilkan masalah konflik yang dimunculkan tetapi ada tanggung jawab
yang lebih besar dari hal tersebut yaitu membentuk generasi pejuang dan
penuh kerja keras. Bukankah nasib itu tidak akan berubah bila bukan
kita yang mengubahnya.
Analisis Pengaruh Media (sinetron) terhadap masyarakat yang menyaksikan
Ada
yang menganggap media tidak terlalu perkasa, karena ada variabel
personal yang mementahkannya. Misal, ditemukan fakta bahwa di dalam
perangkat kognitif individu terdapat apa yang disebut selektivitas
perhatian (selective attention), sehingga tidak secara otomatis apa
yang diserap melalui indra penglihatan dan pendengaran diteruskan
membentuk ingatan dalam ranah kognitif menjadi memori dan membentuk
sistem respon. Teori Moderat Effect Theory mengatakan, media bukanlah
satu-satunya variabel yang mempengaruhi perubahan sikap, nilai, dan
perilaku individu. Di dalam banyak kasus, media massa hanyalah sebagai
faktor yang memperkuat saja (re-enforcement). Sebelumnya dalam diri
individu sudah terdapat potensi serupa. Dengan demikian, media massa
hanya merupakan faktor pemicu timbulnya perilaku.
Media
diyakini sejak lama menjadi semacam kanal yang berfungsi mengalirkan
emosi dan kecenderungan distruktif psikologis lainnya menjadi gejala
internal (individu) yang wajar (normal). Aristoteles, misalnya, sejak
ribuan tahun yang silam menyatakan bahwa menonton pemandangan agresi
dapat mengeluarkan perasaan-perasaan agresi yang dimiliki.
Selanjutnya
media dapat menjadi media belajar yang efektif. Jika tidak diwarnai
dengan tampilan yang terlalu vulgar dalam arti terlalu menampilkan
kesan penampilan dalam cerita. Kemudian pengemasan cerita yang lebih ”membumi” sehingga sinetron dapat menjadi media efektif untuk belajar yang bersifat lokalistik. Menurut Cassata dan Asante
(1972:12), bila arus komunikasi hanya dikendalikan oleh komunikator,
situasi dapat menunjang persuasi yang efektif. Sebaliknya bila khalayak
dapat mengatur arus informasi, situasi komunikasi akan mendorong
belajar yang efektif.
Tetapi
pertanyaan selanjutnya adalah apakah masyarakat sudah cukup baik untuk
menseleksi tontonan yang baik, dan mampu mengambil hikmah, sehingga
memiliki nilai pembelajaran. Sebuah survei yang dilakukan AGB Nielsen
pada pertengahan 2006 lalu di masyarakat Jakarta dan sekitarnya,
terlihat bahwa pemirsa menginginkan tayangan sinetron drama, sinetron
misteri/horor, serta tayangan gossip/infotainment untuk dikurangi
karena dinilai tidak memberikan hiburan dan tidak mendidik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar