Minggu, 21 Oktober 2012

Ijtihad Santri Lugu

Oleh: EFRI ADITIA

Amir, seorang santri senior yang sudah terjun sebagai ustadz dan pengajar di sekolah unggulan, suatu ketika dipanggil kyainya, Kyai Nasrul. Amir ternyata disarankan untuk segera menikah. Kebetulan, Kyainya mendapat surat dari sahabatnya yang meminta dicarikan ustadz muda sebagai calon suami anaknya. "Yang penting shaleh, jujur dan tak neko-neko," kata teman kyai itu dalam suratnya.

"Kau kan sudah bekerja dan memiliki penghasilan. Apalagi kabarnya kau sudah punya kendaraan sendiri. Menurutku, kau cocoklah untuk putri sahabatku itu, Mir. Bagaimana? Mau tidak?" tanya Kyai Nasrul sambil memperlihatkan foto putri temannya itu.

Amir yang memang sudah sangat ingin menikah sangat gembira mendapat kabar itu. Walau berwajah cukup tampan, Amir sangat pemalu dan lugu. Itulah yang membuat dirinya tak berani dekat-dekat dengan lawan jenis. Karenanya, ia seperti mendapat durian runtuh. Apalagi wanita yang disodorkan adalah anak seorang kyai, dan dari fotonya tampak lumayan cantik. Dengan malu-malu, ia pun mengangguk setuju.

"Sebagaimana hadits Nabi yang pernah diajarkan Kyai kepada saya,"'An-Nikahu sunnati faman raghiba 'an sunnati falysa minni'  yang artinya, 'Menikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.' Maka dengan mengucapkan bismillah, saya menerima tawaran Kyai ini. Sungguh, ini berkah yang sangat besar bagi saya, " ujar amir malu-malu.

Kyai Nasrul tersenyum mendengar perkataan muridnya. "Syukurlah, kalau kamu senang. Menurutku perempuan ini baik dan dari keluarga baik-baik. Apalagi nama panggilannya mirip artis loh, Mir. Walau namanya Siti Maisaroh, ia dipanggil teman-temannya Maia loh, bagus kan?" ujar Kyai Nasrul sambil tersenyum lucu.

"Ah, Kyai bisa aja." Amir tersipu-sipu.

"Ya, sudah kalau begitu. Besuk kamu temui dia ya, nanti aku kabari temanku itu kalau kamu mau datang ke rumahnya, sekalian kenalan."

"Baik Kyai. Terimakasih." ujar Amir sambil sungkem ke Kyainya.

Amir yang gembira ternyata kelimpungan juga saat akan berangkat ke rumah sahabat Kyainya, Ia bingung mau pakai baju apa dan bingung juga harus membawa apa ke rumah calon mertuanya itu. Akhirnya, ia agak ribet pas datang ke rumah calon mertuanya itu karena membawa durian, rambutan dan juga martabak. Ia berharap salah satu dari bawaannya itu disukai calon mertuanya.

Kyai Arman, calon mertua Amir, tentu saja tersenyum simpul melihat Amir. Tampak sekali di matanya, Amir sangat lugu. Apalagi saat Kyai Arman menyebut bahwa Amir sebenarnya tak perlu repot membawa semua itu karena ia hanya perlu membawa karisma (ketulusan) . Tapi, Amir menjawab dia memang tak membawa karisma karena yang dia punya supra. Rupanya, Amir menyangka karisma yang dimaksud calon mertuanya adalah sepeda motor. Tentu saja Kyai Arman makin tersentum geli. Tapi melihat itu semua, Kyai Arman sangat senang. Iya yakin seratus persen Amir masih suci karena ia demikian lugu dan pemalu. Kyai Arman pun segera menggelar pernikahan putrinya dengan Amir.

hari-hari bahagia pun berlangsung. Namun baru tiga bulan ternyata muncul masalah, Istri Amir, Maia alias Siti Maisaroh tiba-tiba meminta cerai. Tentu saja hal ini membuat geger. Selidik punya selidik ternyata hal ini tersangkut masalah yang sangat pribadi.

Kyai Arman segera tahu bagaimana cara menyelesaikan masalash itu. Selain menasehati putrinya ia menyuruh Amir untuk menghadap Kyainya karena menurutnya hanya itulah jalan yang terbaik untuk masalah itu.

"Duduk kamu!" ujar Kyai Nasrul geregetan.

"Iya Kyai, ini saya duduk." Amir ketakutan.

"Ngamal apa sampai istrimu minta cerai begitu?" tanya Kyai Nasrul tegas.

"Saya tak ngamal apa-apa Kyai. Cuma dalam urusan rumah tangga, termasuk hal yang pribadi, dalam menggauli istri, saya mngamalkan hadits Nabi yang berbunyi, "Khairul umur awsathuha, artinya urusan yang terbaik itu adalah yang di tengah-tengah," ujar Amir ketakutan.

"Itu dia masalahnya. Kamu itu mbok  ya ijtihad, jangan saklek begitu. Yang namanya tengah itubisa ditambah atau dikurangi sejengkal supaya pas. Ya sekitar itulah. Jangan tengah secara matematis. Ngerti kamu?!"

"Iya, Kyai. saya ngerti."

"Pokonya tandanya gampang saja. Kalau istrimu mukanya berubah, pasti itu tengahnya sudah pas. Sudah sana, kamu pulang."

Amir pun pulang. Dan pada malam hari ia melakukan ijtihad yang diajarkan Kyainya. sejak saat itu kehidupan Amir dan Maia bahagia dan dikaruniai banyak anak.

Tidak ada komentar:

Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi / sosmed Lainnya

Assalamualaikum wr.wb. Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah P...