Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Agustus 2017

Teladan seorang Gus Miek

Ketika orang yang sudah meninggal masih ber Akhlaq...Sementara yang masih hidup???

Nabila Dewi Gayatri adalah seorang pelukis. Suatu ketika Ia melukis Gus Miek, Selalu gagal dan tidak bisa.

"Gus Miek ketika saya mau besarkan, Beliau tidak mau"

Kata Nabila dilokasi pameran tunggal lukisannya, Para kyai Nusantara yang bertajuk "Sang Kekasih" Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Semula, Ia ingin melukis Gus Miek dengan pose separu badan sebesar 150 x 120 m.

"Sudah saya taruh kanvas, Saya taruh foto beliau disamping. Saya mulai. Saya tidak bisa memulainya enggak bisa. Tangan terasa sulit untuk digerakan. Otak ku penuh,  Tidak ada ide-ide baru, Memulainya dengan cara apa? Sepertinya aku bukan pelukis ketika melukiskannya" Ungkapan kata dewi.

Kemudian dia beristighfar, Lalu mengirimi fatihah dengan lafal, "Khususon ila waliyullah Gus Miek, "Saya Tahlili, Saya mulai lagi, Masih belum bisa," 

Akhirnya Ia berziarah ke makam Gus Miek di Ploso. "Kemudian saya mendapatkan ilham, Beliau tak mau dibesarkan, Dapat petunjuk" katanya.

Setelah itu ia bisa melukis lancar dengan ukuran lebih yaitu 50 x 50 m. Sementara foto kyai-Kyai lainya 80 x 100 m. Bahkan ia bisa melukis ukuran sama sampai 13 buah.

Monggo sami-sami kirim doa kagem waliyullah Gus Miek : Al fatihah..
Semogga kita bisa meneladani dan mendapatkan berkahnya amin..

#Haul Gus Miek kamis malam jumat kliwon 17 agustus 2017 di makam beliau.

Teladan seorang Gus Miek

Ketika orang yang sudah meninggal masih ber Akhlaq...Sementara yang masih hidup???

Nabila Dewi Gayatri adalah seorang pelukis. Suatu ketika Ia melukis Gus Miek, Selalu gagal dan tidak bisa.

"Gus Miek ketika saya mau besarkan, Beliau tidak mau"

Kata Nabila dilokasi pameran tunggal lukisannya, Para kyai Nusantara yang bertajuk "Sang Kekasih" Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Semula, Ia ingin melukis Gus Miek dengan pose separu badan sebesar 150 x 120 m.

"Sudah saya taruh kanvas, Saya taruh foto beliau disamping. Saya mulai. Saya tidak bisa memulainya enggak bisa. Tangan terasa sulit untuk digerakan. Otak ku penuh,  Tidak ada ide-ide baru, Memulainya dengan cara apa? Sepertinya aku bukan pelukis ketika melukiskannya" Ungkapan kata dewi.

Kemudian dia beristighfar, Lalu mengirimi fatihah dengan lafal, "Khususon ila waliyullah Gus Miek, "Saya Tahlili, Saya mulai lagi, Masih belum bisa," 

Akhirnya Ia berziarah ke makam Gus Miek di Ploso. "Kemudian saya mendapatkan ilham, Beliau tak mau dibesarkan, Dapat petunjuk" katanya.

Setelah itu ia bisa melukis lancar dengan ukuran lebih yaitu 50 x 50 m. Sementara foto kyai-Kyai lainya 80 x 100 m. Bahkan ia bisa melukis ukuran sama sampai 13 buah.

Monggo sami-sami kirim doa kagem waliyullah Gus Miek : Al fatihah..
Semogga kita bisa meneladani dan mendapatkan berkahnya amin..

#Haul Gus Miek kamis malam jumat kliwon 17 agustus 2017 di makam beliau.

Senin, 10 Maret 2014

KH. ZAINUDDIN MOJOSARI, KYAI DAN PESANTREN YANG UNIK


Pondok berusia tua yang didirikan oleh KH. Ali Imron beratus-ratus tahun yang lampau ini memang tergolong cukup antik dan aneh (kontroversial). Bila Anda datang bertamu ke sana mungkin akan merasa kaget atau asing. Seringkali ada tamu atau santri baru yang datang langsung disambut oleh para santri Mojosari, lalu digendong beramai-ramai sambil dibacakan shalawat. Bila santri baru ini berani membalas dengan kata-kata, kontan dimasukkan ke dalam kamar dan diambilkan pentung kemudian penggojlokan dilanjutkan. Tidak main-main apabila masih berani juga bisa dipentung sungguhan sampai tunduk.

Oleh-oleh berupa rokok, jajan atau uang recehan tak segan-segan diminta oleh santri dan dikeroyok dibagi rata beramai-ramai. Banyak tamu menjadi malu, jengkel bahkan marah, sehingga mengadukan hal ini langsung kepada kiai.

Pada zaman Kiai Zainuddin masih memangku pondok, beliau sering memarahi santrinya yang bertingkah kurang etis tersebut, bahkan sampai memukul-mukul dengan tongkat. Akan tetapi tradisi itu tak pernah sembuh, hanya sempat berkurang dan kambuh lagi. Akhirnya kiai pasrah menganggapnya sebagai suatu suratan pembawaan dari Pondok Mojosari. “Biarkah saja mereka nakal, ibarat padi mereka masih muda wajarlah kalau tengadah, nanti jika mereka sudah berisi akan merunduk dengan sendirinya,” begitu ungkapan beliau.

Namun santri Mojosari mengaku bahwa sama sekali tak ada maksud negatif apalagi akan menyakiti kepada para tamu atau santri baru. Gojlokan hanyalah suatu tradisi yang maksudnya untuk melatih kesabaran dan memperkuat mental dalam menerima cobaan. Sebagaimana layaknya perpeloncoan untuk mahasiswa baru di universitas.

Suasana setiap hari di Pondok Mojosari sangat berbeda dengan pondok-pondok salafiyah pada umumnya. Di pondok ini tidak nampak santri-santri tekun belajar, melakukan riyadhah atau tirakat puasa, ngrowot, mutihan dan sebagainya. Banyak santri yang bergerombol bersenda-gurau, ngobrol dengan bebas, yang penting mereka mengaji dengan tertib dan rajin shalat berjamaah.

Namun bukan berarti permasalahan ukhuwah sesama santri diabaikan. Bahkan suasana keakraban dan persamaan nasib nampak sangat menonjol. Tidak ada seorang santripun dapat menyimpan jajan untuk dimakan besok pagi, semuanya mesti dibagi-bagi.

Ada lagi yang lebih antik, pada zaman dahulu belum ada fasilitas kamar mandi dan WC, jadi para santri seluruhnya mandi ke sungai. Sudah lumrah bagi santri Mojosari apabila telanjang bulat dari kamarnya bergerombol menuju sungai, padahal santri-santri pada zaman itu sudah besar-besar, suatu pemandangan yang sungguh mengerikan. Terkadang mereka ke sungai sambil mencari ikan dan tentu saja hasilnya buat dimakan keroyokan. Solidaritas (persaudaraan) sesama santri tidak hanya sampai di situ, sudah menjadi kebiasaan pula apabila mereka merokok terjadilah salome (satu batang ramai-ramai). Dan banyak lagi contoh yang lain.

Keantikan Pondok Mojosari ini ada asal-usulnya. Alkisah, KH. Ali Imron, asal Grobogan Purwodadi Semarang, tatkala masih muda pergi berguru kepada Kiai Salimin di Lasem Jawa Tengah. Suatu malam Kiai Salimin keluar melihat-lihat santrinya yang tengah nyenyak tidur di lokasi pondok. Tiba-tiba beliau melihat pancaran sinar yang keluar dari balik sarung seorang santri. Beliau mendekati santri tersebut dan sarungnya diikatkan.

Lalu esok paginva semua santri ditanya. Ternyata si empunya sinar adalah Ali Imron. Oleh karena itu setelah dirasa cukup ilmu yang diperoleh, Kiai Salimin memilihnya menjadi menantu dan menugaskannya untuk membuka hutan di daerah Nganjuk dan kemudian didirikan pondok pesantren yang tak lain adalah Pondok Mojosari sekarang ini.

Demi pengabdian kepada ilmu dan ta’dzim kepada gurunya, Kiai Ali Imron berangkat menuju lokasi yang diperintahkan. Dijalaninya tirakat luar biasa sampai bertahun-tahun lamanya di tengah hutan belantara yang sangat angker. Menghadapi para penghuni rimba raya yang terdiri dari macan, ular, jin dan hantu bukan perkara yang ringan. Rupanya Kiai Ali Imron sangat dekat dengan Allah Sang pemilik hutan dan jagat raya, sehingga tak satupun makhluk jahat yang sanggup merintanginya dan akhirnya sukseslah beliau mengemban amanat guru sekaligus mertuanya. Tirakatnya benar-benar mengeluarkan daya kekuatan batin yang luar biasa dan doa-doanya sangat makbul.

Di tengah-tengah tirakat yang amat berat itulah beliau mengucapkan rangkaian kalimat nadzar: “Santri santri yang belajar di pondok ini kelak, tak perlu puasa dan tirakat macam-macam, seluruh tirakat aku yang menanggung. Pokoknya mereka mau mengaji dengan tekun di sini, insya Allah diberkahi.” Sebuah nadzar yang makbul dan menjadi kenyataan di kemudian hari.

Mantapnya keyakinan para santri Mojosari akan keampuhan nadzar Kiai Ali Imron lambat laun membawa warna lain di Pondok Mojosari. Para santri benar-benar tidak menjalani tirakat semata-mata mengandalkan tirakatnya sang pendiri pondok. Ciri khas ini terus berkesinambungan dari generasi ke generasi sampai sekarang.

· Siapakah Kiai Zainuddin?

KH. Zainuddin berasal dari Padangan Bojonegoro Jatim. Di masa mudanya ia belajar di Pondok Langitan Babat. Sudah menjadi tradisi yang baik di kalangan para ulama untuk menjodohkan putrinya dengan santri-santri berbobot, begitu pula dengan Kiai Zainuddin. Karena prestasinya yang menonjol beliau lalu dijadikan menantu oleh gurunya. Kemudian diutus untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari.

Beliau tampil pada urutan kelima sebagai pengasuh terhitung dari KH. Ali Imron sang pendiri pondok. Berkat kepribadian dan kepemimpinan Kiai Zainuddin yang agung nama Pondok Mojosari melejit ke segenap penjuru.

Beliau dikenal oleh masyarakat sebagai waliyullah, namun aktivitas sehari-harinya tak beda dengan petani-petani desa yang bersahaja, karamahnya tak pernah dibuat pameran. Bahkan beliau lebih nampak sebagai seorang ulama syari’ah yang kokoh, tugas-tugasnya dijalankan dengan disiplin dan istiqamah. Setelah selesai mengajar di malam hari, sekitar pukul 22.00 beliau istirahat dan bangun jam 02.00 akhir malam, beliau menjalankan tahajjud, tilawah al-Quran dan lain-lain, mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai menjelang Shubuh.

Terkadang selepas ibadah tengah malam, beliau keluar dari rumah mungkin sebagai refreshing dari rasa penat. Lalu beliau berputar-putar di sekitar pekarangan yang dipadati dengan pohon buah buahan. Beliau mengumpulkan sawo, jambu dan sebagainya yang jatuh akibat bosok atau sisa kelelawar. Makanan itu cukup lezat untuk sarapan ternaknya besok pagi.

Tatkala fajar menyingsing beliau berkeliling membangunkan santri di pondok, disebutnya nama masing-masing santri yang dibangunkannya. Begitu banyak nama santri yang mampu beliau hafal. Apabila musim dingin telah tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi. Untuk mengatasinya Kiai Zainuddin tak pernah kehilangan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet. Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkannya atau diteteskan airnya ke tubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli tamu atau bukan.

Beliau memang memiliki sifat humor sehingga santri-santri menjadi sangat akrab dengannya. Santri yang terkejut merasakan tetesan air sangat dingin itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kiai Zainuddin dengan sigap segera bersembunyi di balik pintu tak beda dengan anak-anak yang bermain kucing-kucingan (petak umpet). Apabila si santri merapikan kembali selimut atau sarungnya karena enggan bangun, dengan sangat sabar beliau mengulangi tetesan-tetesan berikutnya sampai akhirnya si santri bangun dengan sendirinya.

Untuk santri-santri yang masih juga membandel, diteteskannya minyak tanah dari sumbu lampu kaleng bekas yang dipergunakan para santri zaman listrik belum menyebar itu. Si santri pun bisa marah seketika sambil berteriak: “Wo nakal! Mbeling nganggo lengo gas” (Wah nakal sekali! Nakal sampai pakai minyak tanah segala).

Dan si santri hanya bisa tersenyum tersipu malu ketika tahu pelakunya adalah kiai yang mengajak shalat. Begitu juga ketika adzan shalat Dzuhur berkumandang Kiai Zainuddin naik ke masjid lebih awal. Dan dengan penuh kesabaran beliau memanggil-manggil santrinya selama hampir satu jam. “Ayo sholat Co, ayo sembahyang Co,” seru beliau berulang-ulang.

Pengajian yang beliau asuh amat banyak, dari kitab kecil sampai yang besar. Usai pengajian di pagi hari beliau mengganti pakaian dan memegang sapu. Disapunya halaman, kandang sapi, kandang kambing, ayam, bebek dan kuda. Beliau sangat suka memelihara binatang dari sapi sampai kucing, seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang. Walaupun ada pembantu yang bertugas merawat dan memberi makan binatang-binatang peliharaannya, beliau sendiri turun tangan membagi-bagi makanan menunjukkan bahwa kiai ini benar-benar seorang penyayang binatang. Kedisiplinannya pada kebersihan sungguh mengagumkan, sehingga kandang-kandang binatang itu tak terkesan kotor sama sekali, apalagi halaman atau kamar-kamar rumahnya.

Adalah budi pekerti yang pantas diteladani disaat-saat kita sebagai umat Muhammad merasa bangga punya agama yang menjunjung kesucian dan kebersihan. Akan tetapi rumah kita lebih kotor dari orang Majusi. Kita gantung kaligrafi bertuliskan sabda Nabi Saw. “النَّظَفَةُ مِنَ اْلاِيْمَانِ”, namun sampah berserakan di bawahnya.

Kiai Zainuddin tidak hanya pandai menganjurkan sunnah Rasul, tetapi beliau praktekkan sendiri dalam kehidupan, sesuai dengan nasihat yang sering disampaikannya kepada para santri:“Co, ojo lali karo ayat

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

“Apakah kamu perintah orang lain untuk berbuat baik, padahal kamu melupakan dirimu sendiri?”

Syariat Islam dijalankannya dengan nyata dan konsekuen. Untuk keperluan hidup sehari-hari beliau mengolah tanah pertanian secukupnya. Beliau sendiri sering memegang pacul (cangkul) menanam singkong, jagung atau pisang. Beliau tidak menunjukkan tingkah khariqul ‘adah di hadapan masyarakat.

Akan tetapi sepandai-pandai menyimpan durian, tercium juga baunya. Begitu juga halnya Kiai Zainuddin, banyak ulama arif mengakui kewaliannya. Pada suatu ketika KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri dan Rais Akbar NU) membuat surat edaran untuk meluruskan acara perayaan Maulid Nabi, berhubung Mauludan di Pondok Mojosari dinilai kurang Islami.

Konon para santri Mojosari mengadakan pertunjukan wayang wong, kuda lumping, pencak, ketoprak dan sebagainya untuk memeriahkan perayaan Maulid. Sponsornya adalah santri-santri dari Blitar, Jombang, Ponorogo dan Banyumas. Setelah surat edaran siap dikirim, malam harinya Kiai Hasyim bermimpi bahwa alim ulama seluruh Indonesia shalat berjamaah di sebuah masjid jami’. Dengan jelas beliau melihat yang bertindak selaku imam adalah Kiai Zainuddin Mojosari. Surat edaran tersebut praktis tidak jadi dikirim, sebab pada dasarnya Kiai Hasyim cukup segan terhadap Kiai Zainuddin yang merupakan guru dari KH. Wahab Hasbullah, pendiri NU dan Rois Aam setelah KH. Hasyim Asy’ari. Tentu saja terdapat rasa sungkan di tubuh NU untuk mengatur (menegur) gurunya sendiri.

Ketenaran nama Kiai Zainuddin ternyata membawa dampak lain. Sehubungan dengan kewaliannya itulah, banyak orang datang mohon ijazah doa. Namun beliau tetap mengaku tidak punya doa khusus dan memang seperti itulah yang dapat disaksikan, beliau bukan ahli thariqah. Bila ada orang yang datang minta ijazah doa beliau spontan menjawab: “Enggih, sampun kulo ijazahi” (Iya, sudah saya ijazahkan). Entahlah apakah memang benar sudah atau belum, Wallahu a’lam bishshawab.

(Sumber: Buku biografi KH. Dzazuli Utsman, Kyai Blawong Ploso)

KH. ZAINUDDIN MOJOSARI, KYAI DAN PESANTREN YANG UNIK


Pondok berusia tua yang didirikan oleh KH. Ali Imron beratus-ratus tahun yang lampau ini memang tergolong cukup antik dan aneh (kontroversial). Bila Anda datang bertamu ke sana mungkin akan merasa kaget atau asing. Seringkali ada tamu atau santri baru yang datang langsung disambut oleh para santri Mojosari, lalu digendong beramai-ramai sambil dibacakan shalawat. Bila santri baru ini berani membalas dengan kata-kata, kontan dimasukkan ke dalam kamar dan diambilkan pentung kemudian penggojlokan dilanjutkan. Tidak main-main apabila masih berani juga bisa dipentung sungguhan sampai tunduk.

Detik-detik Kewafatan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang)



Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) sebelum akhir hayatnya pada tahun 1968 mengalami pingsan selama kurang lebih 40 hari. Beliau hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa sadarkan diri. Dalam keadaan itu beliau senantiasa disuapi air zamzam oleh putranya sebagai pengganti makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.

40 hari kemudian, akhirnya Habib Ali al-Habsyi mulai sadar. Dipanggillah putranya: “Ya Muhammad, antar Abah ke hammam (kamar mandi) untuk bersih-bersih diri.”

Mendengar ucapan ayahandanya seperti itu, Habib Muhammad merasa sangat senang karena ayahnya sudah berangsur sembuh. Diantarlah ayahnya oleh Habib Muhammad ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri.

Usai Habib Ali al-Habsyi mandi dan berwudhu, beliau duduk di tempat tidurnya dan meminta dipakaikan pakaian kebesarannya yaitu jubah, imamah dan rida’nya. Lalu beliau meminta putranya untuk membacakan qashidah “Jadad Sulaima” yang menjadi kegemaran beliau. Qashidah tersebut adalah karangan guru beliau, yaitu al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shahib Simthud Durar). “Ya Muhammad, aku lihat Rasulullah sudah hadir. Bacalah qashidah Jadad Sulaima. Lekaslah baca, ayo Bismillah!”

Mendengar ucapan ayahnya, segera Habib Muhammad membacakan qashidah tersebut sambil menangis dan tidak mampu menyelesaikan qashidah tersebut. Akhirnya yang melanjutkan qashidahnya adalah Habib Husein bin Thaha al-Haddad (ayah dari Kak Diding al-Haddad).

Setelah selesai pembacaan qashidah tersebut, Habib Ali al-Habsyi berkata: “Ya Muhammad, hari apakah ini?”

Habib Muhammad menjawab: “Hari Ahad ya Abah. Jamaah sudah penuh hadir di Majelis.”

Kemudian Habib Ali al-Habsyi kembali berkata: “Ya Muhammad, kirimkan salamku pada seluruh jamaah. Dan pintakan maaf atas diriku pada seluruh jamaah. Pintakan maaf untukku pada mereka. Sesungguhnya diri ini tidak lama lagi, karena sudah datang Rasulullah dan datuk-datuk kita.”

Dengan perasaan sedih yang mendalam, Habib Muhammad pun akhirnya menyampaikan pesan ayahnya pada semua jamaah yang hadir di Majelis Ta’lim Kwitang hari Minggu pagi itu. Tidak lama setelah itu, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum wafatnya, beliau mengajak kepada yang berada di sekitarnya untuk membaca talqin dzikir “La Ilaha Illallah”.

Semua yang hadir, termasuk Habib Ali bin Husein Alattas (Habib Ali Bungur), Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, dan para keluarga mengikuti ucapan Habib Ali al-Habsyi yang semakin lama semakin perlahan hingga hembusan nafasnya yang terakhir kali.

Akhirnya al-Habib Ali al-Habsyi wafat di pangkuan al-Habib Ali bin Husein Alattas dalam keadaan berpakaian kebesarannya. Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi lahir di Jakarta pada hari Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H/20 April 1870 M, dan wafat hari Ahad 20 Rajab 1388 H/13 Oktober 1968 M.

(Kisah dari Ust. Antoe Djibrel/Khadim MT Kwitang yang beliau dapatkan dari Alm. al-Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi).

Detik-detik Kewafatan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang)



Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) sebelum akhir hayatnya pada tahun 1968 mengalami pingsan selama kurang lebih 40 hari. Beliau hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa sadarkan diri. Dalam keadaan itu beliau senantiasa disuapi air zamzam oleh putranya sebagai pengganti makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.

Senin, 24 Februari 2014

PROFIL AL-HABIB AHYAD BIN ABDULLAH BANAHSAN; PONPES. AL-ABIDIN


Meski usianya masih muda, tapi semangat dakwahnya luar biasa. Ia berhasil meyakinkan masyarakat akan bahaya kemaksiatan. Dan para preman pun segan, tak berani membuka tempat-tempat maksiat.

Kalau Anda lewat di Jl. Pahlawan Revolusi, Jakarta Timur, mulai dari Klender sampai perempatan Pangkalan Jati menuju Pondok Gede, Bekasi, perhatikanlah sebelah kiri dan kanan jalan dengan cermat. Di sana Anda tidak akan menemukan tempat-tempat perjudian, narkoba, biliar, penjual minuman keras dan tempat-tempat hiburan lain yang akrab dengan maksiat.

Apalagi jika Anda masuk ke dalam perkampungan di dalam. Secara sembunyi-sembunyi, mungkin saja ada orang yang membuka tempat-tempat seperti itu. Tapi, jangan harap mereka berani terang-terangan melakukannya. Mengapa? Sebab, jika hal itu terdengar oleh Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan, dalam tempo singkat ia bersama masyarakat Pondok Bambu dan sekitarnya akan segera menggusurnya. Tak peduli siapa yang membuka tempat maksiat dan yang menjadi backingnya.

a. Muda Berwibawa

Ketokohan Habib Ahyad Banahsan dan kekompakan masyarakat Islam setempat membuat lingkungan tersebut relatif bersih dari maksiat – hal yang cukup sulit dilakukan di tempat-tempat lain di Jakarta.

Kaum Muslimin, khususnya yang bermukim di Pondok Bambu dan sekitarnya, patut bersyukur. Sebab, anak-anak mereka relatif lebih aman dari pengaruh yang dapat merusak masa depan mereka, meskipun hal itu tidak menjamin mereka tidak akan terpengaruh sama sekali. Sebab, bisa saja mereka melakukannya di tempat lain atau secara sembunyi-sembunyi. Tapi, upaya seperti itu setidaknya bisa menjadi pagar yang cukup penting buat melindungi mereka.

Habib Ahyad memang dikenal sangat keras – bahkan ada yang menilainya nekat – dalam memberantas kemaksiatan. Jika membasmi tempat-tempat maksiat, ia tidak seperti jenderal di medan tempur yang mengerahkan pasukan sementara ia hanya menonton di belakang. Tidak. Ia selalu maju memimpin murid-murid dan para pengikutnya dalam memperjuangkan kebenaran menurut keyakinannya. Bahkan, terkadang ia sendiri tampil melakukannya, sementara yang lain cuma mengamati dari jauh.

Sikapnya yang konsisten dan keberaniannya memberantas kemaksiatan didasari keyakinannya yang kuat bahwa Allah Swt. akan membantu dan menolong orang-orang yang berjuang di jalanNya. Keyakinan itu semakin mantap, terutama karena langkahnya tidak hanya didukung oleh para santrinya, melainkan juga berbagai elemen masyarakat di sekitarnya, termasuk para tokohnya.

Meski demikian, tidak berarti ia bersikap semena-mena atau serampangan tanpa pertimbangan dan perhitungan matang. Sebelum bertindak, ia selalu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Selain itu, ia terlebih dahulu juga memberikan peringatan kepada mereka yang menggelar praktik-praktik kemaksiatan. Jika peringatan itu tidak diindahkan, barulah ia mengambil tindakan. Memang tidak semua orang setuju. Terhadap orang-orang yang tak sepakat, jawaban Habib Ahyad singkat saja: “Anda lebih sayang kepada anak-anak Anda, atau kepada mereka yang membuka tempat-tempat seperti itu?”

Dalam melakukan dakwah dan mendidik masyarakat, ulama ini bukan tak pernah mengalami kendala. “Kadang-kadang kami didatangi bos-bos biliar yang membawa segepok duit,” tuturnya.

Bukan hanya dengan cara halus, cara-cara keras pun sering dihadapinya. “Ini Arab sialan! Nanti kita bawain pistol aja, Bos,” katanya menirukan ucapan seorang preman kepada bosnya.

Itu semua hanya salah satu dari beberapa aktivitasnya. Itu pun terbatas di wilayah yang masuk dalam pengaruhnya. la tak mau mencampuri wilayah orang lain. Paling-paling, ia mengingatkan dan memberi saran kepada para tokoh masyarakat yang bersangkutan. Selebihnya, ia serahkan kepada kebijaksanaan masing-masing. Dan sampai sejauh ini aktivitas utama -insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor kelahiran 7 Juli 1969 ini- ialah berdakwah dan mendidik masyarakat.

Menurut warga setempat , mereka merasa terayomi oleh kehadiran habib muda ini. Hal itu tiada lain disebabkan oleh upayanya yang sungguh-sungguh agar perbuatannya senantiasa sejalan dengan ucapannya. “Kalau saya menulis se suatu yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat, saya minta murid saya membaca dulu, lalu saya bertanya: “Menurut ente saya ini bagaimana?” Setelah membaca, muridnya bilang: “Ya, seperti yang antum tulis.” Jadi, saya menghindari menulis atau menyampaikan sesuatu yang saya sendiri tidak mampu melaksanakannya. Kalau kita mengajarkan sesuatu yang kita enggak laksanakan, ilmu kita tidak bermanfaat, dan jauh dari hidayah. Kalau kita memberikan ilmu yang biasa kita amalkan, insya Allah murid bisa menerimanya. Tapi kalau ceramah tidak disertai amal saleh, tentu tidak berwibawa”, katanya.

b. Latar Belakang Keluarga

Siapakah tokoh muda yang disegani, yang selalu menjaga keseimbangan dalam berbagai hal ini? Ia, anak sulung dari lima bersaudara, putra-putri pasangan Habib Abdullah bin Umar bin Utsman Banahsan dan Syarifah Husna binti Ahmad bin Utsman Banahsan. Ayahnya, yang masih gagah dan energik dalam usia 60-an, juga dikenal sebagai ulama yang disegani. Ayah dan anak ini memang pasangan serasi, mereka berjalan beriringan dalam membina dan mengayomi masyarakat. Jika Habib Abdullah menjadi sesepuh bagi orang-orang tua, Habib Ahyad menjadi pemimpin anak-anak muda. Pada hari-hari tertentu, sang ayah menggelar pengajian untuk kaum bapak dan di hari lainnya untuk kaum ibu.

Habib Abdullah bin Umar Banahsan adalah orang yang sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka semua, termasuk putri-putrinya, dibekali pendidikan yang memadai agar dapat menjalani kehidupan dan menghadapi tantangan zaman dengan baik. Semua didorong untuk menguasai ilmu. Uniknya, tidak seperti sebagian habib yang lebih cenderung memasukkan anak-anaknya ke sekolah agama, Habib Abdullah lebih memilih pendidikan umum bagi putra-putrinya, terutama untuk tingkat dasar. Salah seorang adik Habib Ahyad, Sayyid Kamil, setelah menyelesaikan pendidikannya di jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UI menjadi dosen di almamaternya. Kini ia sedang menyelesaikan program doktornya di Jerman. Adik-adik Habib Ahyad yang lain semuanya juga menempuh pendidikannya dengan baik hingga jenjang perguruan tinggi. Mereka adalah Syarifah ‘Abidah, Syarifah Mahmudah, dan Sayyid Syafiq.

Meskipun pendidikan anak-anaknya adalah pendidikan umum, tidak berarti ia tidak peduli akan bekal pendidikan agama bagi mereka. Justru ia benar-benar mengarahkan dan membina mereka secara langsung agar dapat menguasai ilmu agama, minimal untuk kebutuhan pribadi. Khusus bagi anak-anaknya yang diharapkan dapat berperan mendidik masyarakat, dorongan dan arahan yang diberikan lebih besar lagi.

c. Pendidikan dan Para Gurunya

Diantara anak-anak Habib Abdullah Banahsan, Habib Ahyad sejak masih duduk di bangku sekolah menengah memang telah menunjukkan kecenderungan yang kuat sebagai calon penerus kepemimpinan Ma’had Al-‘Abidin, baik dari segi kecerdasan, minat keilmuan, semangat perjuangan, bakat kepemimpinan, maupun aspek-aspek lainnya.

Sejak kecil, disamping menjalani sekolah formalnya, ia juga terus membekali diri dengan ilmu-ilmu agama. Ketika masih duduk di bangku SD, tepatnya di SD PR V Pondok Bambu, Jakarta Timur, ia telah mulai serius mempelajari al-Quran dan kitab-kitab dasar, seperti Kitab Sifat Dua Puluh, Irsyadul Anam, Adabul Insan, dan sebagainya kepada Ustadz H. Sanusi dan H. Musa. Kemudian ia belajar kepada guru-guru lain, termasuk kepada ayahnya sendiri dan kepada pamannya, Habib Fadhil bin Umar Banahsan.

Kepada ayahnya, ia mengaji kitab-kitab dasar yang menjadi standar di lembaga-lembaga pendidikan tradisional, diantaranya kitab Jurumiyah, Mukhtashar Jiddan, Kailani, Kafrawi, Kasyifatus Saja, Kifayatul ‘Awam. Sebelumnya, kepada pamannya ia mempelajari berbagai kitab maulid dan kitab Safinatun Naja disamping terus mempelajari al-Quran. Selain kepada mereka, di waktu kecil ia juga belajar kepada kakeknya, Habib Umar bin Utsman Banahsan dan kepada Syaikhah Salamah binti Soleh (guru perempuan).

Disamping dari ayahnya, kitab-kitab dasar menengah ia pelajari juga dari Ustadz H. Abdullah, antara lain kitab Fathul Qarib, Fathul-Majid, Ibnu Aqil. Setelah itu ia menimba ilmu dari KH. Mundzir Tamam dengan mempelajari Shafwatut Tafasir dan Asybah wa an-Nadzairdan kepada Habib Hamid bin Abdullah al-Kaf dengan membaca Qa’idah al-Asasiyah danTarikh Ibn Hisyam.

Antara tahun 1996 sampai tahun 2000, ia mengaji kitab-kitab kepada KH. Rodhi Soleh, yang pernah menjadi Wakil Rais Am PBNU. Kepada ipar KH. M.A. Sahal Mahfudz ini ia mempelajari kitab-kitab al-Manhalul Lathif, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Lathaiful Isyarah, Lubbul Ushul dan Faraidul Bahiyyah.

Sejak tahun 1996 hingga kini, Habib Ahyad, yang menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMPN 51 dan kemudian SMAN 12 Jakarta, belajar kepada KH. Drs. Saifuddin Amsir, yang kini menjadi salah seorang Rais PBNU. Kepadanya ia mempelajari beberapa kitab, diantaranya Qawa’idul Lughah al-‘Arabiyyah dan Ushul al-Fiqh al-Islamiy. Sejak tahun 1983 ia juga menghadiri majelis Habib Syaikh bin Ali al-Jufri, yang memberikan pelajarannya di Masjid al-Abidin.

Disamping itu, ia pun sering mengikuti majelis-majelis KH. Syafi’i Hadzami, seorang ulama terkemuka, panutan kaum Muslimin di Jakarta dan sekitarnya, utamanya pada pengajian-pengajian pasarannya di bulan Ramadan, diantaranya ketika membaca kitab Idhahul Mubhamdan kitab Jauharul Maknun.

Ketika ditanya siapa diantara para gurunya yang paling berpengaruh dan berjasa baginya, ia menjawab: “Semua guru sama berjasa dan berpengaruhnya bagi perkembangan diri saya. Tetapi yang paling banyak membantu saya tentu saja ayah saya.”

d. Besar dalam Nuansa NU

Habib Ahyad dibesarkan dalam dua kultur yang berkaitan erat, habaib dan nahdliyin. Sejak muda ayahnya adalah aktivis Anshor, bahkan sang kakek juga memiliki kedekatan dengan salah satu pendiri NU, KH. A. Wahab Hasbullah, yang juga menjadi Rais Am sepeninggal KH. Hasyim Asy’ari.

Mereka berdua juga menggerakkan kegiatan Ma’had al-‘Abidin, lembaga pendidikan di masjid dengan nama sama di Jalan Kol. Sugiyono, Sawah Barat, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kegiatan utamanya pengajian anak-anak dan remaja yang diselenggarakan setiap malam, kecuali malam Jum’at.

e. Pengabdian dalam Pendidikan

Meskipun dilangsungkan di masjid, pelajarannya tidak kalah dibanding pelajaran di madrasah atau pondok-pondok pesantren. Ia berusaha mempertahankan tradisi dan sistem yang telah diwariskan oleh kakeknya, Habib Umar Banahsan. Beliau berasal dari daerah Mesteer Cornelis, yang sekarang lebih dikenal sebagai Jatinegara. Kemudian pada tahun 1935, oleh Ki Demang, beliau diminta pindah ke daerah Sawah Barat untuk mengajar warga setempat. Sawah Barat adalah sebuah wilayah yang masih masuk Kelurahan Pondok Bambu.

Murid-murid di pengajian ini sekarang jumlahnya sekitar 500 orang putra-putri di bawah bimbingan 50 orang guru. Mereka dibagi ke dalam kelas athfal (kanak-kanak) dan kelas lanjutan yang dibagi lagi menjadi lima tingkatan.

Untuk kelas-kelas athfal, para murid dibimbing oleh seorang guru; sedangkan untuk kelas-kelas berikutnya, mereka dibimbing oleh banyak guru, tergantung pelajarannya. Jadi, ada guru yang khusus mengajar fikih, tauhid, nahu, saraf, tarikh, dan sebagainya.

Selain melestarikan pendidikan agama yang memadukan sistem halaqah dengan sistem madrasah, al-Abidin juga menyelenggarakan pendidikan umum untuk jenjang TK dan SD dengan kurikulum Depdiknas, dan sudah berjalan hampir 10 tahun. Mengapa tidak membuka sekolah agama saja? “Kalau ada anak-anak yang mau mendalami agama, silakan datang ke Masjid Abidin. Jika pendidikan umum dan agama disatukan di bawah sebuah lembaga pendidikan, biasanya ada salah satu yang kalah,” kata Habib Ahyad.

Selain itu, menurutnya, sistem halaqah punya kelebihan tersendiri. “Pendidikan halaqah di masjid punya beberapa kelebihan. Kalau diadakan di kelas, kita kan harus membangun ruang kelas dulu. Kedua, murid-murid dengan bebas mengenakan kain sarung dan kopiah, sehingga bisa langsung shalat berjamaah, bisa langsung mengikuti maulid atau berdzikir. Jadi, ilmu dan amal bisa berlangsung sekaligus. Sebab, masjidlah laboratorium yang sebenarnya. Kalau mereka sudah di situ, kan bisa langsung praktik,” katanya lagi.

Sasaran dakwahnya memang generasi muda. Apalagi, katanya, pemikiran orang tua sudah sulit diubah. “Saya baru 15 tahun terjun di masyarakat. Kebanyakan orang tua itu kan agak sulit kita ubah. Tapi, kalau anak-anak muda, setelah beberapa tahun kita ajak mengaji, insya Allah ada perubahan. Lebih mudah lagi kalau kita menggarap anak-anak kecil, yang memang bisa menjadi lahan dakwah. Anak-anak kecil itu, seperti kata orang Betawi, pegimane maunye kite,” tambahnya.

Menurut perhitungannya, untuk mendidik anak muda diperlukan waktu 10 tahun agar mereka punya sebuah kesadaran, merasakan dan menyadari ajaran agama sebagai kewajiban. Sedangkan untuk mendidik anak-anak, perlu waktu sekitar 20 tahun.

Namun, di lain pihak, cara Habib Ahyad yang keras dan berdisiplin dalam mendidik terkadang diprotes oleh sebagian orangtua murid. Tapi, karena orangtua yang mendukungnya lebih banyak, dan yakin bahwa cara yang ditempuhnya benar, ia tetap pada kebijakannya.“Sebenarnya ada sebagian orangtua murid yang pusing melihat kebijakan saya. Tapi, Alhamdulillah, ayah, yang cukup berpengaruh di lingkungan sini, mendukung saya,”ujarnya.

Meskipun keras dalam mendidik, Habib Ahyad – ayah dua putri dari pernikahannya dengan Syarifah, Yuli Atikah Yahya pada 1994 – selalu mencoba mencari cara yang pas agar murid-muridnya tetap dekat dengannya. Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan yang disukai anak-anak muda tapi tidak bertentangan dengan agama.

“Di Jakarta ini musuh dalam mendidik anak-anak ialah lingkungan dan pergaulan bebas. Untuk benar-benar memutuskan hubungan mereka dari hal-hal negatif itu, tentu cukup berat. Akhirnya, saya melakukan kan beberapa kegiatan yang ngepop. Misalnya, kompetisi sepak bola antar majelis taklim, juga camping setiap akhir tahun. Kalau tahun baru, kami biasanya ke pantai. Setelah salat Maghrib dan Isya, kami ke pantai hingga pukul 02.00 dini hari. Itulah antara lain yang kami coba lakukan agar mereka tidak jenuh,” tuturnya.

f. Ulama yang Tidak Alergi Politik dan Keberagaman

Ulama dan mubaligh muda ini tidak alergi politik. “Politik itu bagian dari perjuangan Islam, sebab Nabi dulu juga menjadi kepala negara. Kalau orang Islam enggak ngerti politik, berarti ada salah satu sisi ilmu Islam yang tidak ia ketahui. Islam kan lengkap, di dalamnya termasuk ilmu politik dan ilmu perang. Selain itu, kaum Muslimin kan sudah memiliki jamaah. Baik NU, Muhammadiyah, maupun partai-partai Islam. Menurut saya, semua partai berbasis Islam itu bagus. Tinggal kita memilih mana yang paling tepat dan paling sesuai dengan jamaah kita,” ujarnya.

Habib Ahyad, dalam bidang ilmu, agama dan dakwah, mengidolakan Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, Dr. Yusuf Qaradhawi dan Syaikh Muhammad al-Ghazali. Sedangkan dalam politik dan perjuangan, tokoh favoritnya adalah pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini. “Saya mengidolakan beliau karena keberaniannya menegakkan kebenaran dan menentang negara adidaya yang dzalim. Meski orang alim saat ini banyak, yang berani berjuang kan enggak banyak.”

Berbeda dengan banyak ulama dan mubaligh muda, Habib Ahyad lebih banyak berdakwah dengan tindakan. Disamping memberi contoh, ia juga dikenal tegas bersikap ketika sesuatu yang menurutnya tidak benar. “Saya cuma tidak ingin jarkoni,” katanya merendah.“Misalnya, masa saya nyuruh teman-teman tidak merokok sementara saya sendiri merokok?”

Bagaimana ia memandang kondisi Indonesia saat ini, khususnya kota Jakarta, yang sudah sarat dengan kemaksiatan? Bagaimana resep menghadapinya? “Menurut saya, setiap orang mendapat beban dari Allah Swt. sesuai kedudukan, kekuatan dan kemampuan masing-masing. Silakan masing-masing berkaca sampai di mana ruang lingkup yang Allah bebankan kepadanya. Lalu, masing-masing bekerja sesuai kemampuannya. Jika itu sudah dilakukan, selesailah tanggung jawabnya. Di lingkungan yang bagus ada tanggung jawab kita, di lingkungan yang jelek pun ada tanggung jawab kita,” katanya.

Tapi, ia tidak setuju jika dikatakan Jakarta sudah benar-benar rusak. Mengapa? Habib Ahyad menyatakan: “Kita wajib bersyukur karena di Jakarta ada ribuan masjid, majelis taklim, dengan sekian ribu habib dan kiai. Memang, panti pijat, diskotek, bar dan tempat-tempat maksiat lain juga banyak. Kalau dihitung, mungkin ada ribuan. Tapi, secara garis besar saya melihat, Jakarta ini bagus. Saya bersyukur dilahirkan di Jakarta. Mau mengaji, banyak gurunya. Mau shalat, di mana saja bisa. Jadi, menurut saya, Jakarta itu kota yang bagus. Tapi, itu juga tergantung bagaimana orang memandangnya.”

Disinggung mengenai pola dakwah yang tepat untuk masyarakat Indonesia, ada yang keras tapi ada juga yang lebih toleran, Habib Ahyad dengan arif mengatakan: “Biar saja semua berjalan, karena dua-duanya perlu. Kadang-kadang umat memerlukan figur yang tegas tanpa kompromi seperti Habib Riziq Syihab, tapi suatu ketika umat juga memerlukan tokoh dengan pendekatan yang lembut dan toleran seperti Habib Alwi Syihab.” Habib Ahyad sendiri mengaku menempuh kedua jalan itu sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi.

PROFIL AL-HABIB AHYAD BIN ABDULLAH BANAHSAN; PONPES. AL-ABIDIN


Meski usianya masih muda, tapi semangat dakwahnya luar biasa. Ia berhasil meyakinkan masyarakat akan bahaya kemaksiatan. Dan para preman pun segan, tak berani membuka tempat-tempat maksiat.

Kalau Anda lewat di Jl. Pahlawan Revolusi, Jakarta Timur, mulai dari Klender sampai perempatan Pangkalan Jati menuju Pondok Gede, Bekasi, perhatikanlah sebelah kiri dan kanan jalan dengan cermat. Di sana Anda tidak akan menemukan tempat-tempat perjudian, narkoba, biliar, penjual minuman keras dan tempat-tempat hiburan lain yang akrab dengan maksiat.

DARI ADAB BERZIARAH KUBUR SAMPAI AMALAN LUHUR


Melaju dari Desa Talang Tegal, saya dan keponakan menuju ke Pesantren Darussalam di Jatibarang Brebes. Pengasuhnya adalah seorang ulama kharismatik di kalangan ulama thariqah maupun kalangan alim dan awam Nahdliyin, khususnya Brebes-Tegal dan sekitarnya.

Tepat pukul 19:20 WIB kami disambut oleh Syaikh Sholeh Basalamah di teras halaman rumahnya. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, beliaupun tersenyum dan tak lama kemudian terdengar alunan suara adzan shalat Isya. Akhirnya kami diajak shalat Isya berjamaah di mushalla pondok pesantrennya sebelum melanjutkan perbincangan lebih lanjut.

Selesai shalat dan wirid berjamaah, kami diajak duduk-duduk kembali. Kami haturkan kepada Syaikh Sholeh ingin berziarah ke makam kakek beliau yang lokasinya tak jauh dari pesantren. Beliaupun berpesan kepada kami seperti pesan ayahandanya, bahwa sebelum berdzikir dan bertahlil di area makam bacalah surat al-Ikhlas sebanyak 31 kali. Hal itu bertujuan agar segala hajat kita lebih cepat terkabul oleh Allah Swt., disamping sebagai adab/tata krama dalam berziarah kubur ke makam para wali Allah.

Kami sampaikan juga kepada beliau bahwa kami ingin belajar lebih dalam tentang kehidupan Rasulullah Saw. Karena kami mengaku masih awam, jauh dari mengenal Nabi Saw. Sembari tersenyum, beliau pun berkata: “Kamu termasuk orang yang beruntung, merasa masih awam yang mau belajar.”

Akhirnya beliau memanggil salah satu santrinya untuk diambilkan dua buku karya terbarunya yang berjudul; “Peristiwa-peristiwa Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad Saw.” (terjemahan kitab Tarikh al-Hawadits karya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki) dan“100 Jalan Meraih Ampunan Allah” (kumpulan 100 hadits Rasulullah Saw.).

Beliau mengijazahkan kepada kami isi dari dua buku tersebut dan mengijazahkan satu amalan untuk didawamkan. Amalan itu adalah bacaan hauqalah “La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim”, dibaca setiap pagi dan sore masing-masing sebanyak 100 kali. Amalan itu untuk memperkuat dzahir dan bathin kita, kuat fisik, kuat mental dan kuat rizkinya.

Beliau berpesan: “Amalan itu yang terpenting bukanlah pada khasiatnya, melainkan istiqamahnya. Kalau mau mengistiqamahkan bacaan itu maka otomatis akan dirasakan sendiri khasiatnya.”

a. Sekilas Profil Syaikh KH. Sholeh bin Muhammad bin Ali bin Ahmad Basalamah

KH. Sholeh Muhammad Basalamah lahir di Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah 14 juli 1959 M. Putra kedua dari Syaikh Muhammad Basalamah. Sejak kecil dibimbing langsung oleh kakeknya, ulama kharismatik Syaikh Ali bin Ahmad Basalamah.

Pengalaman belajar yang beliau miliki sungguh tidak diragukan lagi, setelah lulus SLTP di Jatibarang, beliau melanjutkan pendidikan di YAPI Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Setelah itu beliau menjadi santri salah satu ulama terkemuka di dunia yaitu Prof. DR. as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Mekkah, yang dimulai pada tahun 1978 sampai 1986.

Pada tahun 1994 beliau mengikuti “Tadribuddu’at al-Alamiyyah”, Training Dakwah Islam Internasional, di Universias al-Azhar Kairo Mesir. Pada tahun 2007 dan 2009 mengikuti Seminar Internasional tentang Tasawwuf dan Thariqah atas undangan Raja Muhammad as-Sadis dari Maroko.

Selain dakwahnya yang lemah lembut, beliau juga dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Diantara hasil tulisan beliau yang telah diterbitkan adalah:

1. Tabungan Hari Akhirat (koleksi Hadits-hadits Amal).
2. Pengantar Ilmu al-Quran.
3. Jurus-jurus Kehidupan (Pesan-pesan Moral).
4. Detik-detik Penting Kehidupan Rasullulah Saw.
5. Keampuhan Ayat-ayat Allah.
6. Keistimewaan Hari Jum’at . 
7. Sebaiknya Anda Tahu.
8. Peristiwa-peristiwa Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad Saw. (terjemahan dari kitabTarikh al-Hawadits karya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki).
9. 100 Jalan Meraih Ampunan Allah (kumpulan 100 hadits Rasulullah Saw.).
10. Dll.

Syaikh Sholeh Basalamah adalah pengasuh utama Pondok Pesantren Darussalam Desa Jatibarang Kidul, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Beliau merupakan salah satu pemuka tokoh ulama thariqah. Beliau mewarisi silsilah thariqah Tijaniyah dari ayah dan kakeknya. Sekarang beliau disamping aktif sebagai Muqaddam/Mursyid Tijaniyah juga aktif sebagai Syuriyah PCNU Kabupaten Brebes.

Diantara yang mengenal dekat dengan beliau adalah Maulana al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan. Dulu al-Habib M. Lutfi bin Yahya lama berguru kepada kakek beliau yaitu Syaikh Ali bin Ahmad Basalamah.

Basalamah adalah nama sebuah marga Arab dari Hadhramaut tapi bukan Habaib, atau biasa kita sebut sebagai kalangan “Masyayikh”. Kebanyakan saat ini marga Basalamah di Indonesia berfaham al-Irsyad, dan tak sedikit yang berfaham Salafi-Wahabi. Maka keluarga besar KH. Sholeh Basalamah termasuk diantara marga Basalamah yang tersisa atau langka yang tetap mengikuti faham para leluhurnya yaitu Aswaja ala Nahdlatul Ulama.

b. Sekilas Tentang Pondok Pesantren Darussalam

Setiap kota memiliki ciri khas tersendiri, begitu juga kota kecil di wilayah Kabupaten Brebes tepatnya di Jatibarang. Kota yang memiliki history sangat kental dengan peninggalan Belanda. Di pusat kota, berdiri kokoh bangunan-bangunan tua di area pabrik gula yang sudah beroperasi sejak zaman penjajahan dan hingga kini masih eksis peroperasi menghasilkan gula guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tak hanya itu, kota ini juga terkenal banyak mencetak ulama dan pribadi-pribadi paripuna melalui perjuangan para ulama dengan dakwahnya. Dan termasuk yang terbesar diantara semua adalah Pondok Pesantren Darussalam di bawah asuhan KH. Sholeh Muhammad Basalamah.

Melalui perjuangan yang sangat melelahkan, beliau mendirikan sebuah yayasan Pendidikan Islam Darussalam pada tahun 1988. Seperti pendidikan Islam kebanyakan, madrasah ini dimulai dengan santri yang sedikit. Namun hal itu tidak pernah menyurutkan semangat dan tekad Syaik Sholeh Basalamah untuk tetap berkhidmat kepada agama melalui madrasah tersebut.

Berselang kurang lebih 11 tahun, madrasah ini kemudian menjadi sebuah pondok pesantren yang besar yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Darussalam tepatnya pada tahun 1999.

Jika kita melihat rutinitas yang terdapat di Ponpes Darussalam sungguh sangat berbeda dengan pondok-pondok lainnya. Kebanyakan pesantren-pesantren di Indonesia selalu memperhatikan kuantitas santrinya, tapi tidak dengan Ponpes Darussalam, setiap tahunnya pondok hanya menerima 20-30 santri baru yang kebanyakan dari mereka sudah menyelesaikan pendidikan SMA/MA sederajat. Hal ini dilakukan karena beberapa alasan, diantaranya beliau ingin mengenal lebih dekat dengan para santrinya.

Pondok Pesantren Darussalam mendidik para santrinya dengan cara menerapkantarbiyyatus salaf, yang dikolaborasiakan dengan kurikulum yang diadopsi dari pembelajaran di Timur Tengah. Seperti kebanyakan pesantren salaf yang lain, pondok ini juga tidak menyertakan pedidikan formal, seperti SD bahkan sampai Perguruan Tinggi. Akan tetapi ijazah yang dikeluarkan bisa digunakan untuk mendaftar ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, baik di Indonesia bahkan di Timur Tengah.

Jenjang pendidikan yang ada di pesantren ini dimulai dari ibtida’, tsanawiyyah dan ‘aliyah. Untuk kegiatan sehari-hari, santri wajib bangun dimulai dari jam 03:00 dinihari untuk melaksanakan shalat Tahajjud bersama, dilanjutkan dengan shalat Shubuh berjamaah dan membaca awrad (wirid-wirid) setelah melaksanakan shalat. Semua santri mengikuti Kuliah Shubuh dengan sistem halaqoh sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Setelah itu para santri beristirahat untuk mandi, sarapan pagi dan mempersiapkan diri untuk masuk ke kelasnya masing-masing. Sebelum memasuki kelas mereka masing-masing, para santri diwajibkan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan belajar mengajar yang dilaksanakan sampai pukul 13.00 WIB, dan dilanjutkan dengan shalat Dzuhur berjamaah.

Untuk menyelingi kepenatan belajar, para santri diberikan waktu berolah raga setelah mereka melaksanakan shalat Ashar berjamaah dan pembacaan surat al-Waqi’ah. Seusai shalat Maghrib berjamaah, para santri melanjutkan pembelajaran yang sistemnya sama dengan pembelajaran di pagi hari yaitu halaqoh yang disesuaikan dengan kelasnya masing-masing.

Setiap malam Rabu para santri dikumpulkan untuk mendengar taui’yah atau sejenis diklat dari pengasuh pondok pesantren. Kemudian pada malam Kamis para santri melakukantamrinan khithabah (latihan khutbah) yang bertujuan untuk membiasakan diri mereka sebelum terjun ke masyarakat. Pada malam Jum’at digunakan untuk pembacaan Maulid Nabi Saw.

Sedangkan pengajian rutin di Pondok Pesantren Darussalam yang disediakan untuk kalangan umum adalah mingguan dan bulanan. Untuk yang mingguan, diadakan setiap Senin pagi dimulai pukul 09:30 WIB sampai tiba waktu shalat Dzuhur. Kitab yang diajarkan adalah kitab-kitab karya gurunya, as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Untuk saat ini yang sedang dikaji adalah kitab Dzakhair Muhammadiyyah, sudah dapat separo. Rencananya setelah khatam kitab tersebut akan dilanjutkan dengan kajian kitab Haul al-Ihtifal bi Maulid an-Nabiy Saw.

Sedangkan yang bulanan diadakan setiap malam Jum’at Kliwon. Sedikit berbeda dengan pengajian mingguan, dalam pengajian ini disertakan juga dengan dzikiran atau wiridan bersama dan istighatsah.

Keterangan foto: KH. Syaikh Sholeh Muhammad Basalamah saat acara haul ayahandanya di Pemakaman Umum Jatibarang Kidul, Brebes.

sumber : Pustaka Muhibbin

DARI ADAB BERZIARAH KUBUR SAMPAI AMALAN LUHUR


Melaju dari Desa Talang Tegal, saya dan keponakan menuju ke Pesantren Darussalam di Jatibarang Brebes. Pengasuhnya adalah seorang ulama kharismatik di kalangan ulama thariqah maupun kalangan alim dan awam Nahdliyin, khususnya Brebes-Tegal dan sekitarnya.

Tepat pukul 19:20 WIB kami disambut oleh Syaikh Sholeh Basalamah di teras halaman rumahnya. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, beliaupun tersenyum dan tak lama kemudian terdengar alunan suara adzan shalat Isya. Akhirnya kami diajak shalat Isya berjamaah di mushalla pondok pesantrennya sebelum melanjutkan perbincangan lebih lanjut.

MANAQIB AL-IMAM AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABDULLAH AL-HADDAR (1340 H/1921 M - 1418 H/1997 M)


Meskipun beliau termasuk orang alim ‘allamah dan masyhur sebagai wali Allah, mungkin belum banyak yang tahu tentang jejak-rekam riwayat hidup beliau. Namun jika disebut nama al-Habib Umar bin Hafidz, mayoritas Muslimin dunia mengetahuinya. Padahal keduanya merupakan ulama yang memiliki hubungan erat satu sama lainnya, hubungan antara guru dan murid serta antara mertua dan menantu.

Daftar Isi:

a. Nasab Al-Habib Muhammad Al-Haddar
b. Kelahiran Al-Habib Muhammad Al-Haddar
c. Guru-guru dan Kegigihan Belajar Al-Habib Muhammad Al-Haddar
d. Perjuangan Dakwah Al-Habib Muhammad Al-Haddar
e. Karya-karya Al-Habib Muhammad Al-Haddar
f. Akhir Hayat Al-Habib Muhammad Al-Haddar

a. Nasab Al-Habib Muhammad Al-Haddar

Nasab lengkap beliau adalah al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar bin Syaikh bin Muhsin bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Shaleh bin Ahmad bin Syaikh Abubakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali Shahib ad-Dark bin Alwi al-Ghuyur bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbat bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad Shahib ash-Shauma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin al-Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Imam Husain bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. suami Sayyidah Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.

b. Kelahiran Al-Habib Muhammad Al-Haddar

Al-Habib Muhammad al-Haddar lahir di desa ‘Azzah, dekat Kota al-Baidha’ di utara Yaman, pada tahun 1340 H/1921 M. Ayah beliau adalah al-Habib Abdullah dan ibu beliau adalah Hababah Nur binti Abdullah Ba Sahi, seorang wanita shalihah yang dikenal karena amal dan ibadahnya. Ibunya sangatlah pemurah hingga sering membantu orang-orang yang kelaparan, terutama pada saat bencana kelaparan di Yaman selama Perang Dunia Kedua.

Pada masa kecilnya, al-Habib Muhammad al-Haddar belajar al-Quran dan ilmu-ilmu dasar agama dari ayahandanya sendiri dan para ulama Baidha’. Di salah satu malam terakhir bulan Ramadhan sewaktu dirinya berada di masjid disaksikan cahaya yang cemerlang, malam Lailatul Qadar. Merupakan hal yang sangat utama dan mulia tatkala seorang hamba diberikan anugerah oleh Allah Swt. dapat menyaksikan malam yang satu malamnya lebih baik daripada seribu bulan.

c. Guru-guru dan Kegigihan Belajar Al-Habib Muhammad Al-Haddar

Semangat dan hausnya dalam mencari ilmu mendorongnya untuk melakukan perjalanan ke Tarim pada usia 17 tahun. Setelah melakukan perjalanan dengan perahu layar dari ‘Adn ke al-Mukalla, dengan terpaksa beliau harus menghentikan langkahnya. Karena masa itu di tempat yang akan dituju beliau sedang terjadi pertikaian politik, dihimbau untuk kembali ke rumah.

Namun dengan semangatnya yang tinggi, beliau pun tidak patah arang untuk tetap melanjutkan pengembaraannya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan melalui darat. Ayahnya turut serta menemaninya dalam perjalanan.

Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk berpisah, sang ayah pun menghadap ke kiblat dengan linangan air mata dan berkata: “Ya Allah, orang yang mengirimkan anak-anak mereka ke Amerika dan tempat-tempat lain demi mendapatkan uang. Dan saya mengirimnya untuk belajar sampai ia mendapat kefutuhan dan menjadi seorang ulama, yang bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka.”

Meski dalam perjalanannya menghadapi kepayahan dan kelaparan yang membuat dirinya hampir mati kehausan di jalan pegunungan antara Seiwun dan Tarim, akhirnya tibalah ia di Tarim dengan selamat. Langsung saja beliau menuju ke ribath terkenal dan bertemu dengan seorang guru utamanya, al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri.

Al-Habib Muhammad al-Haddar menghabiskan 4 tahun untuk belajar di Rubath Tarim dengan usaha yang sangat gigih. Kegigihan itu tergambarkan setiap sebelum dimulainya pelajaran beliau selalu mempersiapkan pelajaran-pelajaran itu dengan membacanya setidaknya hingga delapan belas kali. Dan sehari-harinya beliau hanya tidur sekitar dua jam, satu jam di siang hari dan satu jam di malam harinya. Sehingga menjadikan al-Habib Abdullah asy-Syathiri, sang guru, mengakui kemampuannya dan memberinya perhatian khusus serta tanggung jawab penuh.

Selain kepada ayahandanya sendiri dan kepada pengasuh Rubath asy-Syathiri, beliau juga telah belajar dengan para ulama yang masyhur pada zamannya. Diantaranya adalah:
1. Al-Habib Alwi bin Abdullah Shihabuddin.
2. Al-Habib Ja’far bin Ahmad Alaydrus.
3. Asy-Syaikh Mahfudz bin Salim az-Zubaidi.
4. Dan masih banyak lainnya.

d. Perjuangan Dakwah Al-Habib Muhammad Al-Haddar

Setelah gurunya, al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri, wafat tahun 1361 H/1941 M maka al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar kembali ke kampung halaman. Hatinya penuh dengan keinginan untuk menyebarkan pengetahuan dan membatu orang-orang menuju ke jalan Allah Swt.

Pada tahun 1362 H/1942 M, beliau mendirikan sebuah madrasah di tempat kelahirannya di ‘Azzah. Beliau juga termasuk berjasa dalam penyelesaian konflik antar suku pada waktu itu.

Beliau melakukan perjalanan dengan berjalan kaki untuk melakukan haji pada tahun 1365 H/1945 M. Sekembalinya dari berhaji, beliau menghabiskan beberapa waktu di Ta’izz untuk belajar kepada al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya.

Pada tahun 1375 H/1955 M, beliau melakukan haji untuk yang kedua kalinya. Dan setelahnya beliau selalu menyempatkan diri untuk berhaji tiap tahunnya. Disamping berhaji, tak lupa beliau mengambil ilmu dari para ulama Hijaz. Diantaranya beliau belajar kepada al-Muhaddits as-Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani.

Pada tahun 1370 H/1950 M, beliau melakukan perjalanan ke Somalia dan menjadi imam Masjid Mirwas di Mogadishu. Akhirnya beliau menetap di sana selama satu tahun setengah. Selain itu, kesibukan beliau di sana adalah istiqamah mengajar dan mengawasi pembentukan ribath (pesantren) di Kota Bidua. Di sinilah beliau bertemu seorang guru besar bernama al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad.

Al-Habib Muhammad al-Haddar sudah lama ingin mendirikan ribath di Kota al-Baidha. Beliau mencari dukungan keuangan di ‘Adn dan Ethiopia. Usahanya nampak berhasil dengan selesainya konstruksi awal pada tahun 1380 H/1960 M. Beliau meminta agar al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz (ayah dari al-Habib Umar bin Hafidz) mengirim seseorang dari Tarim. Pada saat itu al-Habib Zein bin Ibrahim bin Smith adalah orang yang dipilih al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz untuk menjadi guru di ribath dan menetap di al-Baidha sekitar 20 tahun.

Pada tahun 1402 H/1981 M, al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz meninggalkan Hadhramaut yang saat itu sedang bergejolak perang saudara, dan datang ke al-Baidha. Beliau menghabiskan 10 tahun untuk belajar kepada al-Habib Muhammad al-Haddar. Akhirnya al-Habib Umar bin Hafidz pun bukan hanya menjadi murid gurunya itu, melainkan juga sebagai menantu dengan menikahi putri sang guru. Di ribathnya al-Habib Umar bin Hafidz juga diminta untuk mengajar.

Al-Habib Muhammad al-Haddar salalu setia dalam oposisinya terhadap pemerintah sosialis yang berkuasa di Yaman Selatan tahun 1387 H/1967 M. Hal ini menyebabkan beliau dipenjara di al-Mukalla dalam kunjungannya ke Hadhramaut pada tahun 1390 H/1970 M). Di dalam penjara beliau tak pernah putus dalam mengajar hingga para narapidanalah yang menjadi sebagai muridnya.

Hingga pada akhirnya beliau dibebaskan melalui perantara dari al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah dan al-Habib Ja’far Alaydrus. Kemudian beliau pun kembali ke al-Baidha setelah berterimakasih kepada mereka atas usahanya dan telah memperingatkan para ulama Tarim dan Seiwun dari bahaya yang tersisa di Hadhramaut.

Pada tahun 1395 H/1974 M, beliau pergi ke Kepulauan Comoros untuk mengunjungi seorang ulama besar di sana, al-Habib Umar bin Ahmad bin Smith. Setelah itu beliau menuju Kenya untuk mengunjungi gurunya, al-Habib Ahmad Masyhur al-Haddad.

Hubungannya sangat dekat dan erat dengan ulama besar Jeddah, al-Habib Abdul Qadir Assegaf. Mereka berdua pernah bepergian bersama ke Irak dan Suriah pada tahun 1396 H/1975 M. Al-Habib Abdul Qadir juga sudah dua kali mengunjungi al-Baidha dan ribath yang didirikan oleh al-Habib Muhammad al-Haddar.

Al-Habib Muhammad al-Haddar termasuk salah satu ulama yang mengapresiasi dan sangat menghormati gerakan Jama’ah Tabligh (JT). Terbukti di tahun 1402 H/1981 M, beliau menuju ke Pakistan, Bangladesh, Thailand dan Malaysia untuk mengunjungi para ulama gerakan itu dan menghadiri pertemuan mereka.

e. Karya-karya Al-Habib Muhammad Al-Haddar

Diantara kitab yang beliau ajarkan adalah Shahih al-Bukhari, Ihya ‘Ulumiddin, asy-Syifa’ DAN Minhaj ath-Thalibin karya Imam an-Nawawi. Beliau juga telah mengumpulkan sejumlah koleksi dari adzkar (wiridan-wiridan) untuk dibaca pada siang hari dan malam hari yang terkumpul dalam kitabnya yang berjudul al-Fawaid al-Itsna ‘Asyar dan Nasyi-at al-Lail. Dan wiridan yang dibaca saat dalam perjalanan dikumpulkannya dalam kitab Jawahir al-Jawahir.Wiridan-wiridan itu hingga kini masih banyak dibaca di Darul Musthafa, ribath yang didirikan oleh sang menantu.

Beliau juga menyusun koleksi adzkar dan doa-doa untuk Ramadhan yang dikumpulkannya dalam kitab an-Nafahat ar-Ramadhaniyyah. Dan juga wirid-wirid dan doa untuk haji dalam kitab Miftah al-Haji.

Beliau pun menulis sebuah risalah tentang pencapaian akhlak mulia dalam kitabnya yang berjudul al-‘Ajalat Sibaq. Risalah lain yang ditulisnya adalah tentang kinerja haji berjudul Risalat al-Hajj al-Mabrur dan risalah kompilasi pilihan hadits berjudul asy-Syifa Saqim.

f. Akhir Hayat Al-Habib Muhammad Al-Haddar

Sakit bisa datang kepada siapa saja dari hamba Allah, termasuk al-Habib Muhammad al-Haddar. Sebelum kewafatannya pun beliau menderita sakit. Hingga menjelang akhir hidupnya beliau masih sempat pindah ke Mekkah.

Kata-kata terakhir yang sering beliau lafadzkan setiap hari pada masa akhir hidupnya adalah:

لا إِلَهَ إِلاّ الله أَفْنِي بِها عُمْري
لا إِلَهَ إِلاّ الله أَدْخُل بِها قَبْري
لا إِلَهَ إِلاّ الله أَخْلو بِها وَحْدي
لا إِلَهَ إِلاّ الله أَلْقى بِها رَبِّي


“La Ilaha Illallah, dengan itu aku mengakhiri hidupku.
La Ilaha Illallah, dengan itu aku masuk ke dalam kuburku.
La Ilaha Illallah, dengan itu aku memisahkan diriku.
La Ilaha Illallah, dengan itu aku bertemu Tuhanku.”

Hingga akhirnya beliau tersungkur bersujud dan ruhnya meninggalkan tubuhnya. Beliau pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini pada tanggal 08 Rabi’ul Akhir tahun 1418 H/1997 M. Jenazahnya dimakamkan di dekat makam ibundanya.

Wallahu al-Musta’an A’lam. Lahu al-Fatihah…

sumber : Pustaka Muhibbin

MANAQIB AL-IMAM AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABDULLAH AL-HADDAR (1340 H/1921 M - 1418 H/1997 M)


Meskipun beliau termasuk orang alim ‘allamah dan masyhur sebagai wali Allah, mungkin belum banyak yang tahu tentang jejak-rekam riwayat hidup beliau. Namun jika disebut nama al-Habib Umar bin Hafidz, mayoritas Muslimin dunia mengetahuinya. Padahal keduanya merupakan ulama yang memiliki hubungan erat satu sama lainnya, hubungan antara guru dan murid serta antara mertua dan menantu.

GUS DUR BUKAN HABIB? Upaya Klarifikasi Nasab Gus Dur


Salah satu fanpage aliansi HTI memuat tulisan tentang “Nasab Gus Dur” (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=476329205806768). Admin mengaminkan sepenuhnya tulisan yang diposting oleh pengelola website MajalahMisykat Lirboyo. Padahal sedari dulu, saya sudah mengikuti baik di fanpage-nya maupun di website-nya, banyak komentar yang menanyakan balik pada admin yang belum dijawabnya: “Apakah klarifikasi itu benar-benar valid dari Habib Luthfi?”

Daripada menunggu-nunggu jawaban yang belum pasti, yang padahal jika ingin diketemukan solusinya cukup datang langsung kepada Habib Luthfi bin Yahya. Tapi sekedar mengeluarkan unek-unek dari salah seorang teman saya yang berfam Azmatkhan (nama dirahasiakan dulu), juga unek-unek saya sendiri sebagai rakyat jelata. Teman saya itu termasuk salah seorang yang ahli dalam ilmu pernasaban, terlebih nasab-nasab “Azmatkhan”.

_________________

Teman: “Assalamu’alaikum Ustadz. Saya melihat status Ustadz tentang Gus Dur. Mohon maaf ada hal yang sangat mengganjal buat saya, GUS DUR DIKATAKAN bukan HABIB. Lha memang pengertian keturunan Nabi itu hanya kata-kata habib saja? Sepertinya tidak. Ahlul Bait itu beragam panggilannya, di Jawa Timur YIK, di Palembang AIP, di Padang SIDI, di Malaysia SYED, di Pakistan dan India ASHRAFF, dll. Jadi masing-masing negara beda panggilan.

Mohon maaf pula ketika Rabithah Alawiyah mengatakan Gus Dur bukan Ahlul Bait, pertanyaan saya, apakah mereka punya sanad tentang AZMATKHAN? Apakah penyusun kitab yang mereka jadikan rujukan itu pernah ke Indonesia dan mendatangi kyai-kyai keturunan Walisongo?

GUS DUR adalah AZMATKHAN dan nasabnya tercatat lengkap di kitab al-Mausu’ah li Ansab al-Imam al-Husain. Nasab yang panjenengan share itu nasab yang salah, karena Gus Dur bukanlah generasi ke 33 atau 34. Gus Dur generasi ke 38 dan nasab ini sudah tercatat dan tersimpan lama di kitab yang disusun oleh ulama keturunan Sunan Kudus.

Sebaiknya, menurut saya, bagi pihak yang meragukan nasabnya Gus Dur, tanyalah kepada ulama yang mengerti tentang nasab Azmatkhan.

Jelas Mbah Hasyim Asy’ari adalah Ahlul Bait dari jalur AZMATKHAN. Bagi mereka, yang tidak mengakui Gus Dur, silakan saja. Namun sampaikan kepada mereka yang tidak mengakui Gus Dur dan juga Mbah Hasyim atau Mbah Kholil Bangkalan sebagai Ahlul Bait“Allah Tidak Tidur”.

Sekali lagi, jika ingin membicarakan nasab Azmatkhan, wajib mereka mempunyai sanad. Jika tidak, sampaikan kepada mereka, lebih baik mereka diam. Karena mendustakan nasab tanpa bukti yang ada, apalagi tidak mempunyai sanad, itu merupakan perbuatan yang luar biasa jahatnya. Kalau panjenengan mungkin faham.”

Sya’roni As Samfuriy menjawab: “’Alaikumussalam Wr. Wb. Izin share Gus. Saya juga belum mendapatkan pernyataan kebenaran klarifikasi itu, padahal mengatasnamakan Habib Luthfi. Sedangkan saya punya teman yang menjadi kepercayaan Habib Luthfi (KH. Zimam Hanifuddin Nusuk) mengatakan bahwa Gus Dur adalah termasuk salah seorang Habib.”

Teman: “Tapi ana khawatir mereka yang tidak faham ilmu nasab.”

Sya’roni As Samfuri: “Injeh, sendiko dawuh.”

Teman: “Kasihan Gus Dur dan Mbah Hasyim, jelas-jelas mereka ini Ahlul Bait, tapi kadang sering dijadikan sasaran tembak. Nasab Gus dur dan keluarga Mbah Hasyim itu sudah terdata jelas dan terang-benderang. Itu fihak Habib Lutfi sepertinya musti mengkerasi orang yang sering bawa-bawa nama Habib Lutfi.”

Sya’roni As Samfuriy: “Andai saja poro kiai (yang mayoritasnya Ahlul Bait berfam Azmatkhan) tidak bersifat khumul niscaya mereka mau saja membeberkan nasabnya di muka umum. Tapi memang amal lebih digemari olehnya daripada sekedar membanggakan nasab.”
___________________

sumber : Pustaka Muhibbin

GUS DUR BUKAN HABIB? Upaya Klarifikasi Nasab Gus Dur


Salah satu fanpage aliansi HTI memuat tulisan tentang “Nasab Gus Dur” (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=476329205806768). Admin mengaminkan sepenuhnya tulisan yang diposting oleh pengelola website MajalahMisykat Lirboyo. Padahal sedari dulu, saya sudah mengikuti baik di fanpage-nya maupun di website-nya, banyak komentar yang menanyakan balik pada admin yang belum dijawabnya: “Apakah klarifikasi itu benar-benar valid dari Habib Luthfi?”

KISAH LAIN TENTANG USTADZ HARIRI

Setelah ramai diperbincangkan di berbagai media sosial, terutama di facebook, banyak kisah-kisah lain yang terungkap tentang sepak terjang Ustadz Hariri. Dan penuturan ini berani dipertanggungjawabkan oleh si penulis kisah.

1. Ustadz Hariri Dikenal Memiliki Emosional yang Tinggi

Cerita pertama dituturkan oleh saudara Zaenal, ia mengatakan: “Istri saya pernah mengundang beliau (Ustadz Hariri) karena kenal dekat sama teteh (kakak)nya. Kata tetehnya:“Ustadz (Hariri) memang punya sifat emosional, apalagi kalau masalah sound system paling bawel.” Ya dimaklumilah. Syukurnya pas acara soundnya bagus, jadi gak diomelin hehe…”

2. Terinjak Sandalnya, Ustadz Hariri Marah-marah dan Memaki Orang Tua

Cerita kedua dituturkan oleh saudara Danial Mukhtar Al kisah. Ia menuliskan kisahnya berikut ini:

“Ustadz Hariri, pernah waktu itu diundang berceramah di acara Maulid Nabi Muhammad Saw. di masjid daerah Cempaka Putih Jakarta Pusat. Dan kebenaran salah satu panitia dalam acara itu adalah sahabat saya, yaitu Ustadz Ridi, orang pribumi dari daerah tersebut.

Walhasil, setelah acara selesai banyak jamaah dari kaum bapak-bapak dan juga ibu-ibu yang langsung ingin mendekati Ustadz Hariri agar bisa mencium tangan da’i yang dianggap terkenal di media televise. Ternyata salah satu jamaah dari kaum bapak ada yang tidak sengaja menginjak sandal dari Ustadz Hariri, sehingga menjadi kotor sandal sang da’i ini.

Lalu Ustadz Hariri dengan ekspresi penuh dengan kemarahan serta muka merah memadam langsung memaki-maki orang tua tersebut, yaitu bapak-bapak yang sudah tua umurnya.

Akhiranya sahabat saya, Ustadz Ridi, langsung mendekati Ustadz Hariri dan berkata:“Wahai Ustadz, ternyata akhlak ente lebih buruk dan hina dari orang bodoh.”

Begitulah kisah dari sang da’i yang dianggap terkenal? Ini kisah dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya, silakan bertemu saya untuk kuajak ke tempat lokasi kejadian.”

KISAH LAIN TENTANG USTADZ HARIRI

Setelah ramai diperbincangkan di berbagai media sosial, terutama di facebook, banyak kisah-kisah lain yang terungkap tentang sepak terjang Ustadz Hariri. Dan penuturan ini berani dipertanggungjawabkan oleh si penulis kisah.

1. Ustadz Hariri Dikenal Memiliki Emosional yang Tinggi

Cerita pertama dituturkan oleh saudara Zaenal, ia mengatakan: “Istri saya pernah mengundang beliau (Ustadz Hariri) karena kenal dekat sama teteh (kakak)nya. Kata tetehnya:“Ustadz (Hariri) memang punya sifat emosional, apalagi kalau masalah sound system paling bawel.” Ya dimaklumilah. Syukurnya pas acara soundnya bagus, jadi gak diomelin hehe…”

KH. AQIL SIROJ KEMPEK CIREBON


Salah seorang kiyai kampung dari Cirebon, KH. Aqil Siroj yang wafat tahun 90-an. Kiyai kecil yang menjadi pendiri Pondok Pesantren Kempek itu dikarunia 5 orang anak, semuanya laki-laki. Berkat kegigihannya dalam mendidik dan merawat anak, kelima anaknya itu berhasil menjadi panutan di tengah-tengah umat. Mereka adalah:

1. KH. Ja’far yang sekarang menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Kempek,
2. KH. Musthafa Aqil salah satu Katib PBNU yang menjadi menantunya KH. Maimoen Zuber,
3. KH. Ahsin yang cacat sejak kecil sehingga hanya belajar kepada ayahnya namun mampu untuk mengajar kitab Fathul Qarib, Imrithi dll. kepada para santrinya,
4. KH. Ni’am S1 keluaran al-Azhar, dan
5. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU.

“Belum tentu saya memiliki anak-anak seperti saya yang Profesor dan Doktor,”tutur Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said.

“Ayah saya jangankan punya sepeda ontel, beli rokok pun tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kajang hijau, pergilah ia ke pasar di Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,”lanjut Kang Said menceritakan keadaan ayah semasa hidupnya.

Suatu hari Kiyai Aqil hendak membelikan perhiasan emas untuk istrinya. Hidupnya yang teramat sederhana, maka suatu keistimewaan bagi beliau bisa membelikan emas untuk istri tercintanya. Setelah kacang hijau hasil panenannya dijual dan mendapatkan sejumlah uang yang cukup untuk dibelikan emas, pergilah ia ke toko emas. Akhirnya dibelilah emas itu dan siap-siap untuk dibawa pulang.

Ia harus menaiki becak terlebih dahulu sebelum akhirnya naik mobil angkutan umum agar bisa sampai ke kediamannya di Kempek. Begitu mobil melintas di depannya, langsung saja beliau segera turun dari becak. Tidak mau ketinggalan kesempatan, karena untuk bisa menaiki mobil angkot perlu berjam-jam lamanya.

Sampailah Kiyai Aqil Siroj di Kempek. Begitu masuk ke dalam rumah, istrinya yang menunggu sedari tadi langsung bertanya: “Bah, mana emas yang Abah beli dari pasar tadi?”

Dengan tenang sang suami menjawab: “Lupa Mi. Tadi sewaktu Abah naik becak keburu mobil datang, Abah khawatir ketinggalan mobil. Emas itu ya tidak terpikirkan dan ketinggalan di becak. Ya sudah Mi memang belum rizki kita.”

Begitulah keadaan kiyai-kiyai dahulu, yang bukan hanya menekan pada anak-anaknya untuk giat beribadah dan belajar, namun memberikan contoh langsung dari ibadah dan kuatnya mujahadah yang secara istiqamah dilakukan. Karena “Lisanul hal afshahu min lisanil maqal”, lisan perbuatan lebih mengena dan mudah ditiru daripada hanya sekedar lisan ucapan.

sumber : Pustaka Muhibbin

KH. AQIL SIROJ KEMPEK CIREBON


Salah seorang kiyai kampung dari Cirebon, KH. Aqil Siroj yang wafat tahun 90-an. Kiyai kecil yang menjadi pendiri Pondok Pesantren Kempek itu dikarunia 5 orang anak, semuanya laki-laki. Berkat kegigihannya dalam mendidik dan merawat anak, kelima anaknya itu berhasil menjadi panutan di tengah-tengah umat. Mereka adalah:

Kamis, 30 Januari 2014

KH. MA. SAHAL MAHFUDZ “KIAI PENCARI MUTIARA”



Sebagaimana yang terjadi pada kyai pesantren, Kyai Sahal dari Kajen adalah perokok berat. Itu tidak hanya nampak pada rokok yang selalu dipegang dan dihisapnya, tapi juga pada keadaan fisiknya, kurus kering dan tenggorokannya sering terkena batuk.

Kebiasaan merugikan ini mungkin datang dari “kebiasaan kiai” untuk sedikit tidur dan berlama-lama dalam keadaan terbangun. Kalau tidak membaca kitab-kitab agama sendirian hingga larut malam, tentu untuk menemui tamu yang mengajak berbincang tentang banyak hal. Belum lagi kedudukan beliau sebagai Sekertaris Syuriah NU Wilayah Jawa Tengah, yang membawa tambahan kerja rutin menerima tamu atau mengikuti rapat yang menghabiskan waktu.

Lahir, dibesarkan, dan juga akhirnya menetap di “Desa Pondok” Kajen di Kabupaten Pati -sebuah desa dengan belasan pesantren yang hidup terpisah satu dari yang lain- Kyai Sahal dididik dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional. Apalagi di bawah bimbingan ayahnya sendiri waktu kecil, Kyai Mahfudz yang juga “Kyai Ampuh,” adik sepupu almarhum Ra’is Aam NU, Kyai Bisri Syansuri.

Kemudian melanjutkan pelajaran dengan bimbingan kyai “Ampuh” lainnya, seperti Kyai Zubair Sarang.Pada dirinya terdapat tradisi ketertundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqh, dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan tawarru’ (bermoral luhur).

Tidak heran jika Kiai Sahal “menjadi jago” di usia muda. Belum genap usia 40 tahun ia telah menunjukkan kemampuan tinggi dalam forum-forum fiqh. Ini terbukti dalam siding-sidang BM (Bahtsul Masail) tiga bulanan yang dilakukan NU Jawa Tengah.

Bulan lalu di Moga Pemalang, misalnya, Kiai Sahal muncul lagi dengan cemerlang. Sekian ratus kiai membahas sebuah masalah pelik: “Kawin lari. Haramkah atau halakah? Bagaimana kedudukan ayah atau wali yang menurut madzhab memiliki wewenang menetapkan jodoh seorang anak gadis?”

Bergiliran para Kiai berbicara berbagai pendapat dengan argumennya, kemudian diserahkan kepada sebuah tim perumus untuk memberikan keputusan redaksional di ujung pertemuan dua hari.

Sementara menunggu, Kyai sahal diminta berbicara sekitar masalah itu kepada mereka yang tidak ikut bersidang dengan panitia perumus. Dalam pidato tanpa persiapan itulah tampak kebolehan kyai. Ia berkali-kali menyebutkan kutipan panjang dalam bahasa Arab dari kitab Syarqawi, salah satu kitab utama madzhab Syafi’i, tanpa melihat catatan sekalipun.

Pendeknya, masalah kawin lari harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Kompleksitas hukum fiqh dan berbagai jawaban yang diberikannya terhadap kasus yang berlainan satu dari yang lain, menjadi menonjol dalam penyajian Kiai Sahal itu.

Gambaran sepintas tentang “cara kerja” dan orientasi yang serba legal-formal yang dianut Kiai Sahal itu secara sepihak tentu terasa kaku. Tidak tanggap terhadap kehidupan secara umum, hanya pendekatan kasuistik. Tidak memiliki “filsafat kehidupan” yang luas, atau “kerangka humanistic” yang besar. Tidak jelas kerangka kemasyarakatan (societal framework, al-manhaj al-ijtima’i) yang coba dikembangkannya.

Anehnya, kiai berambut penuh uban pada usia yang belum tua itu, bersikap cukup “aneh” bagi kalangan pesantren tradisional. Apalagi pesantren pesisir utara Jawa.

Mula-mula menerima masukan baru berupa proyek pengembangan masyarakat, dibawakan oleh LP3ES dari Jakarta. Perhatiannya dimintakan untuk memimpin kerja yang dulunya tidak pernah dipikirkan kiai pesantren, seperti pelestarian lingkungan (karena ada pencemaran oleh mata pencaharian utama di Desa Kajen itu, yaitu membuat tepung tapioca), memperkenalkan teknologi terapan bagi penduduk desa (tungku Lorena yang menghemat energy dan sebangsanya), dan memulai usaha merintis pengembangan organisasi ekonomi yang lebih mandiri di kalangan rakyat pedesaan. 

Usaha bersama sebagai wadah pra-koperasi diprakarsainya dalam usaha membuat dan kemudian memasarkan “krupuk Tayamum” (digoreng dengan pasir) dari bahan dasar tepung tapioca. Cukup lumayan, mampu menyerap tenaga kerja sekian kepala keluarga yang tadinya menganggur di desa miskin itu.

What makes Sammy Run? Apa yang membuat Sammy berlari? Dan apa yang menggerakkan Kiai Sahal? Bagaimana Kiai yang suka dibuat bingung dengan istilah Inggris atau Belanda itu mencapai “kearifan” di atas? Dan berani mempertaruhkan kewibawaannya di kalangan sesama ulama pesantren dengan menerima kehadiran seorang “bule” Amerika, beragama Katolik, untuk tinggal dan mengajar bahasa Inggris di pesantrennya?

Jawabannya: Fiqh itu sendiri. Keputusan-keputusan hukum agama di masa lampau diperlakukan secara menyeluruh (bahasa sekarang, komprehensif) dan seimbang. Bukankah dalam Ihya’ Imam Ghozali banyak mutiara yang berhubungan dengan masalah gizi? Bukankah kitab-kitab fiqh cukup mengatur hubungan dengan “orang dzimmi” (orang non Muslim)?
Bukankah kewajiban mengatur kehidupan bermasyarakat dalam totalitasnya, bukan aspek legal dan politiknya, sudah begitu banyak dimuat kitab-kitab lama? Mengapa tidak diperlukan keputusan-keputusan lepas dalam fiqh itu sebagai untaian mutiara yang memunculkan kerangka kemasyarakatan yang dikehendaki?

Toh, Kiai Sahal tidak pula kehilangan hubungan dengan sesama kiai pesantren. Terbukti oleh pengayoman dari sesepuh para kiai di desanya sendiri, Kyai Abdullah Salam. Kiai ini pemimpin pesantren hafalan al-Quran dengan keluhuran akhlaknya (yang takut menerima bantuan uang dari orang kaya ataupun pemerintah, karena takut “kecampuran barang haram”, dan begitu dihormati tokoh legendaris Mbah Hasan Mangli di Jawa Tengah) memberikan persetujuan penuh atas kerja-kerja yang dilakukan Kiai Sahal.

Itu bukti kuatnya akar “rangkaian mutiara” seperti yang dipungut Kiai Sahal itu, untuk masa lampau ataupun masa depan. (Dikutip dari buku “Kyai Nyentrik Membela Pemerintah” tulisan KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur yang dimuat oleh Gus Nuruddin Udien Hidayat).

Lahum al-Fatihah…

Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi / sosmed Lainnya

Assalamualaikum wr.wb. Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah P...