Tampilkan postingan dengan label Al-kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Agustus 2017

Teladan seorang Gus Miek

Ketika orang yang sudah meninggal masih ber Akhlaq...Sementara yang masih hidup???

Nabila Dewi Gayatri adalah seorang pelukis. Suatu ketika Ia melukis Gus Miek, Selalu gagal dan tidak bisa.

"Gus Miek ketika saya mau besarkan, Beliau tidak mau"

Kata Nabila dilokasi pameran tunggal lukisannya, Para kyai Nusantara yang bertajuk "Sang Kekasih" Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Semula, Ia ingin melukis Gus Miek dengan pose separu badan sebesar 150 x 120 m.

"Sudah saya taruh kanvas, Saya taruh foto beliau disamping. Saya mulai. Saya tidak bisa memulainya enggak bisa. Tangan terasa sulit untuk digerakan. Otak ku penuh,  Tidak ada ide-ide baru, Memulainya dengan cara apa? Sepertinya aku bukan pelukis ketika melukiskannya" Ungkapan kata dewi.

Kemudian dia beristighfar, Lalu mengirimi fatihah dengan lafal, "Khususon ila waliyullah Gus Miek, "Saya Tahlili, Saya mulai lagi, Masih belum bisa," 

Akhirnya Ia berziarah ke makam Gus Miek di Ploso. "Kemudian saya mendapatkan ilham, Beliau tak mau dibesarkan, Dapat petunjuk" katanya.

Setelah itu ia bisa melukis lancar dengan ukuran lebih yaitu 50 x 50 m. Sementara foto kyai-Kyai lainya 80 x 100 m. Bahkan ia bisa melukis ukuran sama sampai 13 buah.

Monggo sami-sami kirim doa kagem waliyullah Gus Miek : Al fatihah..
Semogga kita bisa meneladani dan mendapatkan berkahnya amin..

#Haul Gus Miek kamis malam jumat kliwon 17 agustus 2017 di makam beliau.

Teladan seorang Gus Miek

Ketika orang yang sudah meninggal masih ber Akhlaq...Sementara yang masih hidup???

Nabila Dewi Gayatri adalah seorang pelukis. Suatu ketika Ia melukis Gus Miek, Selalu gagal dan tidak bisa.

"Gus Miek ketika saya mau besarkan, Beliau tidak mau"

Kata Nabila dilokasi pameran tunggal lukisannya, Para kyai Nusantara yang bertajuk "Sang Kekasih" Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Semula, Ia ingin melukis Gus Miek dengan pose separu badan sebesar 150 x 120 m.

"Sudah saya taruh kanvas, Saya taruh foto beliau disamping. Saya mulai. Saya tidak bisa memulainya enggak bisa. Tangan terasa sulit untuk digerakan. Otak ku penuh,  Tidak ada ide-ide baru, Memulainya dengan cara apa? Sepertinya aku bukan pelukis ketika melukiskannya" Ungkapan kata dewi.

Kemudian dia beristighfar, Lalu mengirimi fatihah dengan lafal, "Khususon ila waliyullah Gus Miek, "Saya Tahlili, Saya mulai lagi, Masih belum bisa," 

Akhirnya Ia berziarah ke makam Gus Miek di Ploso. "Kemudian saya mendapatkan ilham, Beliau tak mau dibesarkan, Dapat petunjuk" katanya.

Setelah itu ia bisa melukis lancar dengan ukuran lebih yaitu 50 x 50 m. Sementara foto kyai-Kyai lainya 80 x 100 m. Bahkan ia bisa melukis ukuran sama sampai 13 buah.

Monggo sami-sami kirim doa kagem waliyullah Gus Miek : Al fatihah..
Semogga kita bisa meneladani dan mendapatkan berkahnya amin..

#Haul Gus Miek kamis malam jumat kliwon 17 agustus 2017 di makam beliau.

Senin, 24 Februari 2014

TAUBATNYA PEMBENCI ZIARAH KUBUR BERKAT KERAMAT GUS DUR


Sejumlah kisah tak masuk diakal biasa menyertai tokoh-tokoh ulama besar baik di masa hidup maupun wafatnya. Sebuah kisah diungkapkan KH. Ahmad Mustain Syafi’i saat berceramah di haul peringatan 4 tahun wafatnya Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat malam, 3 Januari 2014.

Kiyai Mustain adalah alumni Tebuireng dan salah satu pengajar di Pondok Pesantren Madrasatul Quran, Tebuireng, Jombang. Ia didaulat bercemarah menggantikan Habib Luthfi bin Yahya yang berhalangan hadir. Kiyai Mustain mengaku mendengar kisah aneh tentang penjual durian yang berada di dekat pintu gerbang masuk kompleks pemakaman Gus Dur dan keluarga Pondok Pesantren Tebuireng.

Si penjual durian ini sempat mempertanyakan manfaat ziarah ke makam ulama termasuk Gus Dur. “Mau cari apa sih orang-orang itu ke makam?” kata Kiyai Mustain menirukan perkataan penjual durian.

Suatu hari, seseorang membeli sejumlah durian dari penjual tersebut. “Setelah dibuka satu per satu, durian tersebut kosong enggak ada isinya,” ujar Kiyai Mustain. Pembeli itu pun mengembalikan durian ke penjualnya sambil marah-marah.

Si penjual durian sadar dengan ucapannnya dan membacakan doa-doa ke makam Gus Dur. Sekembalinya ke tempat jualannya, tak disangka, durian yang sebelumnya tidak ada buahnya itu tiba-tiba sudah berisi buah. Mengetahui ini, si penjual durian pun kaget dan percaya dengan keberkahan Gus Dur dan ada hubungan antara dunia nyata dan gaib.

“Terserah Anda percaya atau tidak dengan kisah ini,” ujar Kiyai Mustain.

KH. Ahmad Mustain Syafi’i berharap kisah itu jadi pelajaran agar kita menghargai jasa para ulama dan tokoh besar yang berjasa pada negeri ini.

Peringatan 4 tahun wafatnya Gus Dur itu dihadiri sejumlah pejabat negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri diantaranya Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, Menteri Perindustrian MS. Hidayat, dan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz. (Sumber: Tempo)

TAUBATNYA PEMBENCI ZIARAH KUBUR BERKAT KERAMAT GUS DUR


Sejumlah kisah tak masuk diakal biasa menyertai tokoh-tokoh ulama besar baik di masa hidup maupun wafatnya. Sebuah kisah diungkapkan KH. Ahmad Mustain Syafi’i saat berceramah di haul peringatan 4 tahun wafatnya Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat malam, 3 Januari 2014.

Kamis, 16 Januari 2014

[ PENYESALAN SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA ]

Pada suatu hari, Seorang Anak berkata pada ibunya : “ Ibu, aku malu sama teman-temanku, mereka memiliki ibu yang sempurna secara fisik dan mereka bangga terhadap ibu mereka, tapi aku bu, mengapa aku memiliki ibu yang buta. Andai saja aku tau, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang buta, maka aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan”

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anaknya, sang ibu berkata : “Nak, ibu memang buta, tetapi walaupun kamu malu dengan keadaan fisik yang ibu miliki, ibu tetap sayang padamu nak.." 
Anak menjawab : “ Bu, semua teman-temanku selalu menghinaku, bahkan tidak ada satu perempuan pun yang suka padaku karena melihat fisik ibu yang tidak sempurna. Mereka takut jika kelak menikah denganku anak kami juga akan cacat, buta seperti ibu ”.


Mendengar perkataan anaknya, Sang ibu begitu terpukul dan menangis, namun demikian Sang Ibu tetap sayang pada anaknya. tak henti-hentinya ibu itu berdo’a untuk anaknya.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, akhirnya Si Anak menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Teknik. Betapa bangganya hati Sang ibu mendengar anaknya akan diwisuda dan menjadi seorang Insinyur, tak sia-sia pengorbanannya selama ini dengan berjualan di pasar untuk menyekolahkan Si Anak, tak kenal lelah Sang ibu bekerja walaupun dalam keadaan matanya yang buta.

Sampailah saat yang ditunggu-tunggu, saat Anaknya dan yang lainnya akan diwisuda. Teman-teman berserta orang tuanya dan keluarga berkumpul menantikan acara dimulai, tetapi Sang ibu sama sekali tidak diajak Anaknya untuk menghadiri wisuda tersebut.

Akhirnya Sang ibu datang sendiri keacara tersebut, sesampainya ditempat Anaknya akan diwisuda, betapa bahagianya hati sang ibu mendengar nama anaknya dipanggil kedepan dengan nilai terbaik.

Namun si Anak sangat malu terhadap teman-teman dan kekasihnya ketika mengetahui ibunya juga hadir di acara wisuda itu, acara yang seharusnya menurut si Anak membuatnya bahagia.

Pada saat itu, sang ibu mendekati Si anak sambil meraba-raba wajah anaknya, lalu kekasih Si anak bertanya pada: “ Siapa perempuan buta itu ?" si Anak tidak menjawab dan hanya diam membisu. Akhirnya sang ibu berkata bahwa dia adalah ibunya.

mendengar ibunya berkata demikian, Si Anak akhirnya pulang sebelum acara selesai dan meninggalkan ibunya sendirian. Setelah acara selesai akhirnya sang ibu juga pulang kerumah tanpa anaknya.

Namun siapa yang tau kapan ajal akan tiba, ketika hendak menyebrang jalan sang ibu meninggal dunia. Betapa terkejutnya sh Anak ketika pihak rumah sakit mengabarkan bahwa beberapa menit yang lalu ibunya telah meninggal akibat kecelakaan. Dan petugas kepolisian memberikan tas yang dibawa ibunya pada saat menghadiri wisuda, si Anak hanya diam duduk menunggu ibunya yang masih dibersihkan dari sisa-sisa darah yang masih menempel di tubunya.

Pada saat menunggu jenazah ibunya, si Anak membuka tas kesayangan ibunya yang lusuh dan kumal itu. Disana terdapat foto Sang ibu ketika mengandungnya, dan betapa terkejutnya Si Anak ketika membaca sepucuk surat yang begitu lusuh yang terdapat didalam tas ibunya. Si Anak membaca surat tersebut, dan didalam surat itu tertulis : “ Banjarmasin, 12 Oktober 1984, Anakku yang sangat kucintai, bayi mungilku yang sangat kusayangi, betapa kau sangat berharga dihati ibu nak. Walaupun kau buta dari lahir tetapi ibu sangat menyayangimu, kaulah anugrah terindah yang ibu miliki. Nak, ini adalah surat terakhir yang ibu tulis, karena besok ibu sudah tidak bisa lagi menuliskan kata-kata diatas kertas. Karena besok ibu akan mendonorkan kedua mata ibu untukmu nak, agar kelak kau dapat melihat dan menikmati indahnya dunia, anugrah yang diberikan Tuhan. Nak suatu saat jika ibu sudah tiada dan kau ingin melihat ibu, berkacalah nak, karena dimatamu ada ibu yang selalu menemanimu ”.

Airmata Si Anak pun mengalir deras, ia menyesal karena sudah terlambat bagi dirinya untuk membahagiakan ibunya. Si Anak teringat dengan semua perbuatan yang ia lakukan terhadap ibunya, dia hanya duduk terdiam tersimpuh di depan kaki ibunya yang telah terbujur kaku. Semua telah terjadi dan kini ibunya telah pergi untuk selama-lamanya.

“dalam hal ini mengajarkan betapa besar kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, tanpa mengharapkan balasan. Ibu selalu dengan ikhlas memberikan apapun yang dimilikinya termasuk jiwanya sendiri “

Buat Teman-teman yang sudah membaca cerita ini, Bahagiakanlah ibu mu selagi dia masih Hidup meskipun ada kekurangan dalam Hidupnya , jangan biar kan Ibu mu meneteskan air Mata karna Ulah mu

[ PENYESALAN SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA ]

Pada suatu hari, Seorang Anak berkata pada ibunya : “ Ibu, aku malu sama teman-temanku, mereka memiliki ibu yang sempurna secara fisik dan mereka bangga terhadap ibu mereka, tapi aku bu, mengapa aku memiliki ibu yang buta. Andai saja aku tau, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang buta, maka aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan”

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anaknya, sang ibu berkata : “Nak, ibu memang buta, tetapi walaupun kamu malu dengan keadaan fisik yang ibu miliki, ibu tetap sayang padamu nak.." 
Anak menjawab : “ Bu, semua teman-temanku selalu menghinaku, bahkan tidak ada satu perempuan pun yang suka padaku karena melihat fisik ibu yang tidak sempurna. Mereka takut jika kelak menikah denganku anak kami juga akan cacat, buta seperti ibu ”.

Selasa, 24 Desember 2013

KISAH SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARENA KELAPARAN

Diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan ...

Namun manajer PT X** ( Y ** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', katanya sambil memandang nenek itu,.

Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU'.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi , membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang sejumlah 1jt rupiah ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin...

"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yang membiarkan seseorg kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya....

" Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa ."
Sampai palu diketuk dan hakim Marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5jt rupiah...

Termasuk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT X *** yang tersipu malu karena telah menuntutnya.

Sungguh sayang kisahnya luput dari pers.

Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yang bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media untuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain agar bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yang berhati mulia.

Semoga dapat menjadikan teladan bagi kita semua.

KISAH SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARENA KELAPARAN

Diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan ...

Namun manajer PT X** ( Y ** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', katanya sambil memandang nenek itu,.

Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU'.

Tangis Terakhir Nabi Muhammad

Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.

Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”

“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.

“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.

Fatimah menahan genangan air matanya.

Malaikat maut datang kepada-Nya, tetapi Rasulullah saw. bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya.

Kemudian Rasulullah saw. menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya.

Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.

“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah saw. meminta dengan suara yang sangat lemah.

“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril.

Namun, kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.

Matanya masih penuh kekhawatiran.

“Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.

“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?” kata Rasulullah saw.

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril.

Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.

Perlahan-lahan,ruh Rasulullah saw. dicabut.

Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.

Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.

“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.

“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.

“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.

“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.“

Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.

Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.

Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”

Di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“

Tangis Terakhir Nabi Muhammad

Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.

Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”

“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.

“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.

Fatimah menahan genangan air matanya.

Minggu, 15 Desember 2013

MERASA DIRI PALING MERANA

Bismillahir-Rah ­maanir-Rahim ... Kisah nyata seorang hartawan berkebangsaan saudi bernama Ra'fat. Ia berobat kesana kemari demi mencari kesembuhan, lantaran liver akut yang diderita.
Banyak dokter dan rumah sakit yang sudah ia kunjungi di Saudi Arabia, namun kesembuhan nya tak kunjung didapat. Ra'fat mulai mengeluh. Badan nya kian kurus, layaknya seorang pesakitan. Saran dokter ia harus berobat ke rumah sakit spesialis liver di Guangzhou, China.

Tanpa berpikir panjang, Ra'fat pun segera berangkat. Begitu tiba, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ia harus segera di operasi. Ia pun menanyakan, "berapa besar kemungkinan keberhasilan nya?"

"Bisa selamat atau meninggal"jawab ­ si dokter.
Mendapati jawaban dokter, Ra'fatmengiba "dok, sebelum operasi izinkan saya pulang untu berpamitan dengan kuluarga, sahabat, dan orang yang saya kenal."

Dokter membalas, "Saya tidak berani menjamin keselamatan diri anda untuk kembali ke tanah air saudara kecuali dalam dua hari. Bila lebih dari itu Anda datang kembali kesini, mungkin anda akanmendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver anda."

Bagi Ra'fat dua hari itu cukup berarti. Ia pun segera menyewa pesawat jet untuk menuju ke tanah airnya.
Tiba di Arab Saudi, Ra'fat mendatangi kerabat, tetangga, dan semua orang yang pernah ia kenal, untuk meminta maaf dan berpamitan.

Dengan tubuh kurus tak berdaya,Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Seiring dalam kesedihannya Ia membatin "Ya Allah, rupanya keluarga, harta, dan yang perusahaan besar yangaku miliki tak ada yang mampu membantu untuk menyembuhkan penyakitku ini! semua tak ada guna, semua sia-sia!"
Hingga saat ia tengah berada di mobil bersama sopirnya. Tampak di muka sebuah toko daging, seorang wanita tengah berdiri megais sisa-sisa daging di onggokan tulang-tulang.
Ra'fat pun menepuk pundak sang sopir, lalu memintanya menepi. Lemah ia membuka pintu, dan kemudian berjalan bertatih-tatih menghapiri wanita itu.

"Ibu sedang Apa?"tanya Ra'fat, lirih.
Lantaran terlalu sering diacuhkanorang, wanita tersebut menjawabtangpa menoleh sedikitpun ke arah Ra'fat.
"Aku memuji Allah yang telah menuntunku ke tempat ini. Sudahberhari-hari aku dan 3 putri ku tidak makan. Namun hari ini, aku dapati sisa daging yang masih menempel di sisi tulang belulang ini. Aku berencana membuat kejutan dengan memasakan sup daging yang lezat buat mereka makan malan ini"
Subhanallah, batin Ra'fat bergetar hebat. Ia pun tak pernah menyangka ada manusia yang demikian melarat, namun penuh rasa syukur ini.

Ra'fat lantas melangkah menuju toko daging, lalu berkata " Pak.. tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun."
Mendengar suara Ra'fat, wanita tadi tertegun. Seolah tak percaya ia angkat wajahnya, lalu menoleh dan sejenak menatap Ra'fat.
Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat kembali menoleh ke arah petugas toko, "Pak, tolong jangan hanya 1kg. Siapkan 2kg, dan aku akan membayarnya selama setahun penuh!" Ujar Ra'fat sambil membayar tunai di muka.

Saat hendak pergi, Ra'fat mendapati tangan wanita tadi tengah menengadah ka langit seraya berdoa: "Allohumma ya Allah, berikanlah rezeki, dan limpahkanlah karunia ke pada tuan ini. Jadikan ia manusia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnyadan berilah ia kesehatan lahir danbatin."

Hati Ra'fat bergetar .. perlahan iamulai merasakan ketentraman dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ra'fat pun segera bergegas pergi, tanpa sadar keajaiban telah datang. Langkahnya tegap dan cepat menuju mobilnya, seperti sedia kala.

Sepanjang jalan, Ra'fat terus tersenyum mengingat doa wanitatadi. Perjalanan menuju rumah kerabat nya itu terasa indah.
Sampai tujuan, ia pun berpamitandan meminta restu. Ia katakan kemungkingan operasi gagal sebab sakit liver akut yang diderita.
Anehnya. mendengar berita itu, sang kerabat berkata. "Janganlahbergurau. Kau tampak sehat begitu sehat. Wajah mu ceria. Sedikit pun tak ada tanda-tanda sedang sakit."
Awal nya Ra'fat menganggap ucapan tadi sekedar menghibur dirinya. Namun, setelah ia mendatangi saudara dan kerabatyang lain semua nya berpendapat serupa.

Jelang Operasi ...
Dua hari berlalu, Ra'fat di dampingi oleh istri dan anaknya kembali ke Cina, untuk menjalani operasi. Sebelum masuk ruangan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. setelah hasil pemeriksaan dipelajari, maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan
"Aneh, dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. tapi setelah kami teliti, megapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"

Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga sumringah. Berulang kali kalimat takbir dan tahmid terdengan meluncur dari mulut mereka.

MERASA DIRI PALING MERANA

Bismillahir-Rah ­maanir-Rahim ... Kisah nyata seorang hartawan berkebangsaan saudi bernama Ra'fat. Ia berobat kesana kemari demi mencari kesembuhan, lantaran liver akut yang diderita.
Banyak dokter dan rumah sakit yang sudah ia kunjungi di Saudi Arabia, namun kesembuhan nya tak kunjung didapat. Ra'fat mulai mengeluh. Badan nya kian kurus, layaknya seorang pesakitan. Saran dokter ia harus berobat ke rumah sakit spesialis liver di Guangzhou, China.

Tanpa berpikir panjang, Ra'fat pun segera berangkat. Begitu tiba, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ia harus segera di operasi. Ia pun menanyakan, "berapa besar kemungkinan keberhasilan nya?"

"Bisa selamat atau meninggal"jawab ­ si dokter.
Mendapati jawaban dokter, Ra'fatmengiba "dok, sebelum operasi izinkan saya pulang untu berpamitan dengan kuluarga, sahabat, dan orang yang saya kenal."

Rabu, 11 Desember 2013

KISAH MUALAF SEORANG ANAK DI AMERIKA YANG MEMBUAT MUSLIM YANG LAIN MALU

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”

Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

Subhanallah, Alhamdulillah , Allahu Akbar !!

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita dalam kesabaran, dan memberikan kita segala pertolongan sehingga setiap persoalan yang kita hadapi selalu mendapatkan naungan dan kemudahan-Nya. Aamiin

Semoga kita tetap Istiqamah menjadikan Islam sebagai agama kita yang murni dan mati dalam keadaan islam. Aamiin

Silahkan Klik "SUKA" dan "BAGIKAN", Jika dinilai baik & bermanfaat bagi sahabat semua. Semoga menjadi kebaikan Kita semua.

KISAH MUALAF SEORANG ANAK DI AMERIKA YANG MEMBUAT MUSLIM YANG LAIN MALU

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Selasa, 10 Desember 2013

Sebuah Kisah : Ternyata jodohku Dekat Denganku

Aku seorang wanita berumur 26 tahun. Selama 26 tahun, aku hidup bersama orang tua dan dua adikku. Kami hidup sederhana bahkan kadang di bawah batas kemiskinan. Ya, itu sempat terjadi saat aku kecil dulu. Kini, setelah aku bekerja, keadaan keluargaku sedikit demi sedikit mulai membaik.

Di usia ke-26 ini, seperti halnya dengan perempuan seusiaku, akugalau memikirkan jodoh. Wajar, bukan, jika aku memikirkan pendamping hidupku di usia yang relatif matang untuk wanita...???

Banyak cara kutempuh agar aku bisa segera mendapatkan jodoh. Hingga satu waktu aku bertemu dengan seorang ustadz yang menyuruhku untuk memperbanyak sedekah, sholawat, dan membaca al-quran. Dan, aku menurutinya. Aku melakukannya rutin setiap hari. Bersedekah semampuku pada mereka yang membutuhkan.

Sampai pada satu masa, aku bertemu dengan teman SMA-ku. Seorang lelaki yang dulunya adalah Ketua Umum OSIS. Kau tahu apa yang membuatku terkejut ketika berjumpa dengannya...???

Ia memberiku pertanyaan yang benar² membuat duniaku berputar, jungkir balik bersalto ria. Seperti ini pertanyaannya kira²,

"Aku bermimpi menikah denganmu. Dan, banyak usaha yang kulakukan agar bisa bertemu kembali denganmu. Kini, setelah kita bertemu, maukah kau menikah denganku...???"

Subhanallah... bayangkan saja, melalui mimpi ia bertemu denganku. Kutanya mengapa bisa memimpikanku, ternyata ia rutin sholat istikhoroh, meminta petunjuk agar dipertemukan dengan jodohnya. Dan, dalam mimpi meminta jodoh tersebut, aku ada di dalamnya. Masyallah, begitu jalan cerita yang dibuat oleh-Nya.

Dengan upaya, kami bertemu pada satu sosial media, lalu bercengkrama dan kini bertemu di sebuah cafe. Membicarakan rencana pernikahan kami yang tinggal dua bulan lagi.

‘‘...Allah SWT, rencanaMu selalu indah. Kami bertemu pada masa yang tepat, ketika masing² dalam upaya memantaskan diri..

SUBHANALLAH

Semoga kita dikaruniai pasangan halal yang tulus mencintai kita dan mampu saling membahagiakan..... Aamiin..

Sebuah Kisah : Ternyata jodohku Dekat Denganku

Aku seorang wanita berumur 26 tahun. Selama 26 tahun, aku hidup bersama orang tua dan dua adikku. Kami hidup sederhana bahkan kadang di bawah batas kemiskinan. Ya, itu sempat terjadi saat aku kecil dulu. Kini, setelah aku bekerja, keadaan keluargaku sedikit demi sedikit mulai membaik.

Di usia ke-26 ini, seperti halnya dengan perempuan seusiaku, akugalau memikirkan jodoh. Wajar, bukan, jika aku memikirkan pendamping hidupku di usia yang relatif matang untuk wanita...???

Banyak cara kutempuh agar aku bisa segera mendapatkan jodoh. Hingga satu waktu aku bertemu dengan seorang ustadz yang menyuruhku untuk memperbanyak sedekah, sholawat, dan membaca al-quran. Dan, aku menurutinya. Aku melakukannya rutin setiap hari. Bersedekah semampuku pada mereka yang membutuhkan.

Rabu, 27 November 2013

Kenangan Tengku Zulkarnain dengan Gus Dur ( Kyai Haji Abdurrahman Wahid )


Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai 'pengganti' tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus-menerus menemani Gusdur.

Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, diantaranya adalah Muhaimin Iskandar dan saudara Lukman Edi. Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia.

Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik.

Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam Asy-Syafi'i, Imam Harmaini, Imam Al-Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi...? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah...

Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: "Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir."

Kemudian beliau berdiam beberapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: "laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja.."

Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya.

Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: "Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?" 

Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: "Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini...sampeyan begitu.." yang kesemuanya tepat dan benar. 

Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: "Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam)." Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta.

Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. "Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini." 

Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: "Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini."

Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy'ari.

Selamat jalan Gusdur...Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu'alaika...

Kenangan Tengku Zulkarnain dengan Gus Dur ( Kyai Haji Abdurrahman Wahid )


Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai 'pengganti' tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus-menerus menemani Gusdur.

Selasa, 26 November 2013

MASIH ENGGAN MELAKSANAKAN SHALAT ?

Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya dan pernah disiarkan oleh Radio Al Qur’an di Makkah al Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.

Pemilik kisah ini berkata: ...

Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintahkan aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkan ku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak.

Bahkan aku hanya mencukupkan diri dengan berputar-putar naik mobil hingga jama’ah selesai menunaikan shalat. Keadaan yang demikian terus berlangsung hingga aku berumur 21 tahun. Pada seluruh waktu ku yang telah lewat tersebut aku jauh dari Allah dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Tetapi meskipun aku meninggalkan shalat, aku tetap berbakti kepada kedua orang tuaku.

[Inilah sekelumit dari kisah hidupku di masa lalu]

Pada suatu hari, kami sekelompok pemuda bersepakat untuk pergi rekreasi ke laut. Kami berjumlah lima orang pemuda. Kami sampai di pagi hari, lalu membuat tenda di tepi pantai. Seperti biasanya kamipun menyembelih kambing dan makan siang.

Setelah makan siang, kamipun mempersiapkan diri turun ke laut untuk menyelam dengan tabung oksigen. Sesuai aturan, wajib ada satu orang yang tetap tinggal di luar, di sisi kemah, hingga dia bisa bertindak pada saat para penyelam itu terlambat datang pada waktu yang telah ditentukan.

Akupun duduk, dikarenakan aku lemah dalam penyelaman. Aku duduk seorang diri di dalam kemah, sementara disamping kami juga terdapat sekelompok pemuda yang lain. Saat datang waktu shalat, salah seorang diantara mereka mengumandangkan adzan, kemudian mereka mulai menyiapkan shalat.

Aku terpaksa masuk ke dalam laut untuk berenang agar terhindar dari kesulitan yang akan menimpaku jika aku tidak shalat bersama mereka. Karena kebiasaan kaum muslimin di sini adalah sangat menaruh perhatian terhadap shalat berjamaah dengan perhatian yang sangat besar, hingga menjadi aib bagi kami jika seseorang shalat fardhu sendirian.

Aku sangat mahir dalam berenang. Aku berenang hingga merasa kelelahan sementara aku berada di daerah yang dalam. Aku memutuskan untuk tidur diatas punggungku dan membiarkan tubuhku hingga bisa mengapung di atas air.

Dan itulah yang terjadi. Secara tiba-tiba, seakan-akan ada orang yang menarikku ke bawah… aku berusaha untuk naik…..aku berusaha untuk melawan….aku berusaha dengan seluruh cara yang aku ketahui, akan tetapi aku merasa orang yang tadi menarikku dari bawah menuju ke kedalaman laut seakan-akan sekarang berada di atasku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah.

Aku berada dalam keadaan yang ditakuti oleh semua orang. Aku seorang diri, pada saat itu aku merasa lebih lemah daripada lalat. Nafaspun mulai tersendat, darah mulai tersumbat di kepala, aku mulai merasakan kematian!

Tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa…aku ingat kepada ayahku, saudara-saudaraku, kerabat-kerabat dan teman-temanku… hingga karyawan di toko pun aku mengingatnya. Setiap orang yang pernah lewat dalam kehidupanku terlintas dalam ingatanku…semuanya pada detik-detik yang terbatas…kemudian setelah itu, aku ingat diriku sendiri..!.!!

Mulailah aku bertanya kepada diriku sendiri…apa engkau shalat? Tidak. Apa engkau puasa? Tidak. Apa engkau telah berhaji? Tidak. Apa engkau bershadaqah? Tidak. Engkau sekarang di jalan menuju Rabbmu, engkau akan terbebas dan berpisah dari kehidupan dunia, berpisah dari teman-temanmu, maka bagaimana kamu akan menghadap Rabb-mu?

Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku memanggilku dengan namaku dan berkata: “Bangun dan shalatlah.” Suara itupun terdengar di telingaku tiga kali. Kemudian terdengarlah suara beliau adzan. Aku merasa dia dekat dan akan menyelamatkanku. Hal ini menjadikanku berteriak menyerunya dengan memanggil namanya, sementara air masuk ke dalam mulutku.

Aku berteriak-teriak…tapi tidak ada yang menjawab. Aku merasakan asinnya air di dalam tubuhku, mulailah nafas terputus-putus. Aku yakin akan mati, aku berusaha untuk mengucapkan syahadat….ku ucapkan Asyhadu…Asyhadu…aku tidak mampu untuk menyempurnakannya, seakan-akan ada tangan yang memegang tenggorokanku dan menghalangiku dari mengucapkannya. Aku merasa bahwa nyawaku sudah dalam perjalanan keluar dari tubuhku.

Akupun berhenti bergerak…inilah akhir dari ingatanku. Aku terbangun sementara kau berada di dalam kemah…dan di sisiku ada seorang tentara dari Khafar al Sawakhil (penjaga garis batas laut), dan bersamanya para pemuda yang tadi mempersiapkan diri untuk shalat.

Saat aku terbangun, tentara itu berkata: ”Segala puji bagi Allah atas keselamatan ini.” Kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat kami. Aku pun bertanya kepada para pemuda tentang tentara tersebut. Apakah kalian mengenalnya? Mereka tidak mengetahuinya, dia datang secara tiba-tiba ke tepi pantai dan mengeluarkanmu dari laut, kemudian segera pergi sebagaimana engkau lihat, kata mereka.

Akupun bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian melihatku di air?” Mereka menjawab,”Sementara kami di tepi pantai, kami tidak melihatmu di laut, dan kami tidak merasakan kehadiranmu, kami tidak merasakannya hingga saat tentara tersebut hadir dan mengeluarkanmu dari laut.”

Perlu diketahui bahwa jarak terdekat denga Markas Penjaga Garis Laut adalah sekitar 20 Km dari kemah kami, sementara jalannya pun jalan darat, yaitu membutuhkan sekitar 20 menit hingga sampai di tempat kami sementara peristiwa tenggelam tadi berlangsung dalam beberapa menit.

Para pemuda itu bersumpah bahwa mereka tidak melihatku. Maka bagaimana tentara tersebut melihatku? Demi Rabb yang telah menciptakanku, hingga hari ini aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kepadaku. seluruh peristiwa ini terjadi saat teman-temanku berada dalam penyelaman di laut.

Ketika aku bersama para pemuda yang menengokku di dalam kemah, HP-ku berdering. segera HP kuangkat, ternyata ayah yang menelepon. Akupun merasa bingung, karena sesaat sebelumnya aku mendengar suaranya ketika aku di kedalaman, dan sekarang dia menelepon?

Aku menjawab….beliau menanyai keadaanku, apakah aku dalam keadaan baik? Beliau mengulang-ulangnya, berkali-kali. Tentu saja aku tidak mengabarkan kepada beliau, supaya tidak cemas. Setelah pembicaraan selesai aku merasa sangat ingin shalat. Maka aku berdiri dan shalat dua rakaat, yang selama hidupku belum pernah aku lakukan. Dua rakaat itu aku habiskan selama dua jam. Dua rakaat yang kulakukan dari hati yang jujur dan banyak menangis di dalamnya.

Aku menunggu kawan-kawanku hingga mereka kembali dari petualangan. Aku meminta izin pulang duluan. Akupun sampai di rumah dan ayahku ada di sana. Pertama kali aku membuka pintu, beliau sudah ada di hadapanku dan berkata: “Kemari, aku merindukanmu!” Akupun mengikutinya, kemudian beliau bersumpah kepadaku dengan nama Allah agar aku mengatakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi padaku di waktu Ashar tadi. Akupun terkejut, bingung, gemetar dan tidak mampu berkata-kata.

Aku merasa beliau sudah tahu. Beliau mengulangi pertanyaannya dua kali. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Kemudian beliau berkata: ”Demi Allah, sesungguhnya aku tadi mendengarmu memanggilku, sementara aku dalam keadaan sujud kedua pada akhir shalat Ashar, seakan-akan engkau berada dalam sebuah musibah.

Engkau memanggil-manggilku dengan teriakan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku mendengar suaramu dan aku tidak bisa menguasai diriku hingga aku berdo’a untukmu dengan sekeras-kerasnya sementara manusia mendengar do’aku".

Tiba-tiba, aku merasa seakan-akan ada seseorang yang menuangkan air dingin di atasku. Setelah shalat, aku segera keluar dari masjid dan menghubungimu. Segala puji bagi Allah, aku merasa tenang bagitu mendengar suaramu.

Akan tetapi wahai anakku, engkau teledor terhadap shalat. Engkau menyangka bahwa dunia akan kekal bagimu, dan engkau tidak mengetahui bahwa Rabbmu berkuasa merubah keadaanmu dalam beberapa detik. Ini adalah sebagian dari kekuasaan Allah yang Dia perbuat terhadapmu.

Akan tetapi Rabb kita telah menetapkan umur baru bagimu. Saat itulah aku tahu bahwa yang menyelamatkan aku dari peristiwa tersebut adalah karena Rahmat Allah Ta’ala kemudian karena do’a ayah untukku. Ini adalah sentuhan lembut dari sentuhan-sentuhan kematian. Allah Ta’ala ingin memperlihatkan kepada kita bahwa betapapun kuta dan perkasanya manusia akan menjadi makhluk yang paling lemah di hadapan keperkasaan dan keagungan Allah Ta’ala.

Maka semenjak hari itu, shalat tidak pernah luput dari pikiranku. Alhamdulillah. Wahai para pemuda, wajib atas kalian taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, terimalah taubat kami dan taubat mereka dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.

SUBHANALLAH

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita dalam kesabaran, dan memberikan kita segala pertolongan sehingga setiap persoalan yang kita hadapi selalu mendapatkan naungan dan kemudahan-Nya. Aamiin

MASIH ENGGAN MELAKSANAKAN SHALAT ?

Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya dan pernah disiarkan oleh Radio Al Qur’an di Makkah al Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.

Pemilik kisah ini berkata: ...

Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintahkan aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkan ku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak.

Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi / sosmed Lainnya

Assalamualaikum wr.wb. Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah P...