Senin, 04 November 2013

“Pandangan Habib Umar bin Hafidz Tentang Ziarah Maqam Auliya’”


Ada yang bertanya: “Kenapa ziarah maqam Auliya’? Sedangkan mereka tiada memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada Allah!”

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz menjawab:

“Benar wahai saudaraku aku juga sama pegangan denganmu bahwa mereka tiada mempunyai kekuasaan apa-apa.

Tetapi sedikit perbedaan aku dengan dirimu, karena aku lebih senang menziarahi mereka karena bagiku mereka tetap hidup dalam membangkitkan jiwa yang mati ini kepada cinta Tuhan.

Tapi aku juga heran, kenapa engkau tiada melarang aku menziarahi ahli dunia, mereka juga tiada kuasa apa-apa. Malah mematikan hati. Yang hidupnya mereka bagiku seperti mayat yang berjalan. Kediaman mereka adalah pusara yang tiada membangkitkan jiwa pada cinta Tuhan.

Kematian dan kehidupan di sisi Allah adalah jiwa. Banyak mereka yang dilihat hidup tapi sebenarnya mati, banyak mereka yang dilihat mati tapi sebenarnya hidup, banyak yang menziarahi pusara terdiri dari orang yang mati sedangkan dalam pusara itulah orang yang hidup.

Aku lebih senang menziarahi maqam kekasih Allah dan para syuhada walaupun hanya pusara, tetapi ia mengingatkan aku akan kematian kerena ia mengingatkan aku bahwa hidup adalah perjuangan. Karena aku dapat melihat jiwa mereka ada kuasa cinta yang hebat sehingga mereka dicintai oleh Tuhan lantaran kebenarannya cinta.

Wahai saudarakuku ziarah maqam auliya’, karena pada maqam mereka ada cinta, lantaran cinta Allah pada mereka seluruh tempat persemadian mereka dicintai Allah.

Cinta tiada mengalami kematian, ia tetap hidup dan terus hidup dan akan melimpah kepada para pencintanya. Aku berziarah karena sebuah cinta mengambil semangat mereka agar aku dapat mengikuti mereka dalam mujahadahku, mengangkat tangan di sisi maqam mereka bukan meminta kuasa dari mereka, akan tetapi memohon kepada Allah agar aku juga dicintai Allah sebagaimana mereka dicintai Allah.”


Wallahu A’lam.

“Pandangan Habib Umar bin Hafidz Tentang Ziarah Maqam Auliya’”


Ada yang bertanya: “Kenapa ziarah maqam Auliya’? Sedangkan mereka tiada memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada Allah!”

“Kafir Menurut Ulama Betawi”


Tanggal 10 Nopember 1957, ulama Betawi berkumpul di sebuah bangunan bernama Gosrul Wafidin, Jalan Bidaracina, Jakarta Timur. Mereka dikumpulkan oleh tiga pertanyaan yang dipicu dari fatwa hasil Muktamar Alim Ulama di Palembang, 11 September 1957.
1. Kabinet Gotong Royong yang terdiri dari berbagai macam aliran partai politik seperti, aliran agama, aliran nasionalis dan aliran sosialis. Adakah kabinet pemerintah yang semacam itu haram menurut agama Islam?

2. Dewan Nasional yang menjadi suatu Majelis Pertimbangan dan Penasehat dalam Negeri RI yang anggota-anggotanya terdiri dari berbagai aliran partai politik seperti, aliran agama, aliran nasionalis dan aliran sosialis. Adakah Dewan Nasional yang semacam itu haram hukumnya menurut agama Islam?

3. Bagaimana mengkafirkan orang yang masih mengakui agama Islam dan menghadap kiblat ketika shalat. Adakah dan dapatkah orang itu dipastikan kafir dengan begitu saja?

Di bawah pimpinan al-Habib Salim bin Jindan dan KH. Hasbiyallah sebagai sekretaris, menelaah dengan seksama dari pagi hingga malam. Kitab berjilid-jilid diangkut dari rumah masing-masing dan disajikan meja-meja layaknya makanan. Lalu dibuka satu-satu, dibacakan dengan fasih hingga hadirin paham. Perkara di atas memang serius, tidak main-main: tuduhan haram kabinet dan vonis kafir kepada mukmin. Apa jawaban ulama Betawi atas tiga persoalan di atas?

1. Pertanyaan pertama dijawab jelas, sistem Kabinet Gotong Royong yang dibentuk Soekarno itu mubah saja, tidak haram sama sekali. “Tidak ada alasan dalam agama bagi seseorang yang dapat mengharamkan hal itu, terkecuali ada alasan-alasan, dalil-dalil dan al-Quran, al-Haditsyang shahih beserta dengan ijma’ qaul ulama.”

Ulama Betawi menyodorkan delapan dalil untuk menguatkan padangannya tersebut, 5 berupa hadits dan 3 ayat al-Quran. “Sesungguhnya kehalalan dan keharaman sudah jelas. Dan tiap-tiap yang sudah ditetapkan Rasulullah itulah sebaik-baiknya hukum. Dan tidak boleh bagi seorang muslim menyembunyikan suatu hukum, kecuali Allah dan RasulNya yang menambahkan dalam hukum syara’,” demikian diantara hadits yang disodorkan sebagai dukungan jawaban. Dan ayat suci yang dikemukakan: “Ma yuridullahu liyaj’ala ‘alaikum min haraj” (Sesungguhnya Allah tidak menghendaki atas kalian kesusahan).

2. Untuk pertanyaan kedua, ulama Betawi mengambil keputusan bahwa anggota dewan nasional dengan macam-macam aliran tidak ada masalah, karena tak ditemukan ayat al-Quran ataupun hadits menghukumi masalah tersebut.

3. Masalah ketiga, yakni mengkafirkan, yang sesungguhnya tidak main-main. Karena jika benar, bisa berdampak pada banyak aspek kehidupan, dari soal perkawinan hingga hak mengurus anak, bahkan dapat berujung pada vonis mati. Apa jawabanya ulama Betawi terhadap masalah ini?

“Adapun mengkafirkan seorang Muslim yang belum diketahui dan diselidiki yang sedalam-dalamnya menurut pedoman al-Quran dan al-Hadits serta ijma’ ulama adalah tidak boleh.”Jawaban tersebut disandarkan pada 8 qaul (pendapat mujtahid), 1 atsar (pendapat sahabat Nabi Saw.), 7 hadits Nabi Saw. dan 1 firman Allah.

Diantara pendapatnya adalah sesungguhnya mengkafirkan seseorang mukmin adalah tidak sah dengan jalan apapun. Pendapat ini dikemukakan Syaikh Bachit bin Husain dari al-Azhar Mesir dalam kitabnya al-Bida. “Kufur itu dosa yang sangat besar. Maka janganlah mudah, gampang sekali mencap seorang mukmin itu kafir. Dan sekalipun kamu mengetahui riwayatnya orang itu, hendaknya tidak boleh dikufurkan,” kata az-Zaila’i dalam kitab Syahr al-Kanzi. Sementara Nabi Muhammad memberi peringatan: “Siapa yang mengkafirkan seorang mukmin, maka dialah yang kafir.”

Hasil musyawarah ulama Betawi itu didokumentasikan dalam risalah berjudul “Penolakan Putusan Muktamar Alim Ulama di Palembang”. Risalah 14 halaman itu ditulis dengan bahasa Indonesia, dengan aksara Latin dan Pegon.

Rasanya, risalah lawas itu amat penting hukumnya dikabarkan kembali kepada khalayak ramai, tak terkecuali ulama dan umara. Sebab, akhir-akhir ini terjadi fenomena yang mengacaukan kehidupan beragama.

“Kafir Menurut Ulama Betawi”


Tanggal 10 Nopember 1957, ulama Betawi berkumpul di sebuah bangunan bernama Gosrul Wafidin, Jalan Bidaracina, Jakarta Timur. Mereka dikumpulkan oleh tiga pertanyaan yang dipicu dari fatwa hasil Muktamar Alim Ulama di Palembang, 11 September 1957.

“Dakwah Al-Habib Umar bin Hafidz di Afrika Dihadang oleh Singa!”


Suatu saat al-Habib Umar bin Hafidz ingin melakukan perjalanan dakwah ke pedalaman Afrika. Ketika itu beliau ditemani oleh seorang muallaf bernama Khomis. Khomis adalah salah satu diantara orang-orang yang masuk Islam melalui perantara tangan al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad dan sering membantu kegiatan dakwah beliau selama di daerahnya.

Pedalaman Afrika yang ingin dikunjungi oleh al-Habib Umar harus melewati hutan belantara, yang mana hutan belantara Afrika terkenal akan hewan buasnya. Tapi dengan mantap Habib Umar bin Hafidz memberikan isyarat untuk segera berangkat.

Dimulailah perjalanan dakwah beliau. Sebelum masuk ke dalam hutan, beliau beserta rombongan dihentikan oleh beberapa orang polisi yang sedang berjaga di sebuah pos dekat dengan hutan yang ingin dilalui oleh al-Habib Umar. Mereka hendak memperingatan agar al-Habib Umar tidak memasuki hutan karena hari sudah malam. Ditakutkan beliau dan rombongan akan diserang oleh beberapa hewan buas yang keluar untuk mencari mangsa di saat malam tiba.

Al-Habib Umar pun keluar dari mobil yang ditumpanginya dan berdiri di samping mobil tersebut. Serta merta al-Habib Umar memerintahkan seseorang untuk menggelar tikar di dekat mobil dan memerintahkan rombongan untuk membaca Maulid al-Habsyi (Simthud Durar). Pembacaan maulid pun dimulai. Karena para polisi yang berjaga di pos itu beragama Kristen, mereka pun hanya bisa menonton dari kejauhan.

Setelah pembacaan maulid selesai, al-Habib Umar mendapat isyarat untuk melanjutkan perjalan malam itu juga. Para polisi itu tetap berusaha untuk mencegahnya, tapi al-Habib Umar bersikeras ingin melanjutkan perjalanannya. Para polisi pun kalah argumen dan berinisiatif untuk mengikuti al-Habib Umar dari belakang menggunakan mobil lain, takut kalau tejadi apa-apa dengan al-Habib Umar dan rombongan.

Di tengah perjalanan hal yang dikhawatirkanpun terjadi. Di depan mobil yang ditumpangi oleh al-Habib Umar, muncul seekor singa. Ketika itu al-Habib Umar duduk di kursi depan. Mulailah singa itu mengitari mobil tersebut. Walaupun demikian sang Habib tetap tenang, berbeda dengan rombongan lain yang mulai menunjukkan rasa ketakutannya.

Tak lama kemudian singa itu berhenti di depan jendela sebelah tempat duduk al-Habib Umar, lalu menaikkan kaki depannya ke atas jendela. Al-Habib Umar pun tetap tenang tanpa menunjukkan rasa ketakutan sedikitpun. Lalu beliau berkata kepada supir: “Turunkan jendela ini!”

Supir pun menjawab dengan ketakutan: “Ya Habib, ini singa!”

Tapi al-Habib Umar tetap ingin agar dia menurunkan jendela tersebut. Kaca jendela pun diturunkan. Suatu kejadian menakjubkan pun terjadi, al-Habib Umar mengajak bicara singa tersebut! “Hai singa! Kami ini adalah utusan Rasulullah Saw.”

Kemudian al-Habib Umar mengambil sebuah pisang dan memberikannya kepada singa itu. Singa yang biasanya makan daging, kali ini mau memakan pisang yang diberikan al-Habib Umar. Setelah memakan pisang itu, singa mengangguk-anggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan al-Habib Umar dan rombongan. Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Tak lama kemudian al-Habib Umar dan rombongan sampai ke tempat tujuan.

Setelah menyaksikan kejadian yang luar biasa itu, para polisi yang sebelumnya beragama Kristen itupun ingin mengikrarkan diri mereka untuk masuk agama Islam. Ternyata kejadian yang mereka saksikan menjadi sebab hidayah Allah Swt. yang ingin mengembalikan mereka ke dalam pelukan Islam.

Diculik dan diedit dari tulisan KH. Mukhlas Noer (Ketua Ponpes Lirboyo Kediri). Kisah ini juga pernah disinggung oleh almarhum al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa.

“Dakwah Al-Habib Umar bin Hafidz di Afrika Dihadang oleh Singa!”


Suatu saat al-Habib Umar bin Hafidz ingin melakukan perjalanan dakwah ke pedalaman Afrika. Ketika itu beliau ditemani oleh seorang muallaf bernama Khomis.

JASAD MUFTI BETAWI (AL-HABIB UTSMAN BIN YAHYA) BERPINDAH SENDIRI SAAT MAKAMNYA AKAN DIBONGKAR


Tulisan ini perlu kami sampaikan kepada khalayak umum. Sebuah koreksi dari Ustadz Antoe Djibrel (Khadim Majelis Taklim Kwitang), yang mana di fp (fanpage) tertentu telah memberitakan sejarah tentang “Dibongkarnya Makam Mufti Betawi”.
Di fp itu disebutkan bahwa saat makam Mufti Betawi itu dibongkar, jasad dan kain kafan Habib Utsman masih utuh, bersih dan semerbak mewangi.

Maaf sebelumnya saya ingin luruskan sejarah. Perluasan jalan di Jakarta, terjadi di zaman Gubernur Ali Sadikin dan itu sebelumnya diminta pendapatnya kepada para ulama dan habaib.Pada waktu itu banyak yang menentang dan pasang badan di depan maqam sang Mufti Betawi yang kuburannya terkena perluasan jalan, dan bukan hanya makam Mufti Betawi saja, banyak juga maqam auliya dan ulama yang terkena perluasan jalan.

Karna banyak yang menentang akhirnya diputuskan bernegoisasi antara Gubernur dan para habaib, diantaranya al-Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi Kwitang dan beberapa para pembesar ulama pada waktu itu.

Pada akhirnya disepakati, seluruh makam yang ada dipindahkan dan itu termasuk makam al-Habib Utsman bin Yahya Mufti Betawi. Namun pihak keluarga memutuskan memindahkan sendiri dan itu dilakukan di malam hari sebelum hari pembongkaran. Pada waktu dipindahkan oleh keluarga yang dipimpin oleh al-Habib Umar bin Utsman Banahsan dan keluarga besarnya serta al-Habib Utsman bin Alwi bin Utsman bin Yahya dan keluarga Habib Utsman lainnya.

Saat makam beliau digali, keluarlah bau yang wangi dan itu tidak umum, sampai pada dingding ari-arinya pun masih utuh. Namun setelah dinding ari-arinya dibuka yang nampak hanya bau wangi, tanah yang bersih dan jasadnya tidak ada serta tidak ada bekasnya termasuk kafannya pun tidak ada. Lalu pihak keluarganya pun memutuskan tanah yang sekitar dinding ari-ari dikeruk dan itu yang dipindahkan di Sawah Barat Pondok Bambu.

Banyak para wali waktu itu mengatakan bahwa Habib Utsman bin Yahya pindah sendiri, dan KH. Zaini Abdul Ghani (Guru Ijai) dari Martapura Kalimantan mengatakan bahwa Habib Utsman jasadnya pindah dengan sendirinya di Sawah Barat.

Dan sekarang saksi-saksi sejarah tentang itu hanya tinggal beberapa saja. Peristiwa itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan para orang tua terdahulu, dan peristiwa tersebut bisa dikonfirmasikan kepada pihak keluarga Habib Utsman bin Yahya. Demikian yang dapat kami utarakan dan semoga menjadi bahan revisi.

JASAD MUFTI BETAWI (AL-HABIB UTSMAN BIN YAHYA) BERPINDAH SENDIRI SAAT MAKAMNYA AKAN DIBONGKAR


Tulisan ini perlu kami sampaikan kepada khalayak umum. Sebuah koreksi dari Ustadz Antoe Djibrel (Khadim Majelis Taklim Kwitang), yang mana di fp (fanpage) tertentu telah memberitakan sejarah tentang “Dibongkarnya Makam Mufti Betawi”.

“Paparan Al-Habib Ali Al-Jufriy Tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang Benar”



Imam al-Ghazali Ra. mengatakan bahwa ada 3 sifat yang harus diterapkan dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah:

1. Ilmu: Yaitu hendaknya para da’i memiliki ilmu (mengetahui) tentang apa yang dia ajak kepadanya atau larang darinya. Bisa jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.

2. Wara’: Yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan ruhani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah Swt.

3. Akhlak Mulia: Ini merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting dikala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian.

Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika beramar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan: “Jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal:

a. Kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi.
b. Pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah.

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi Saw., ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki Masjid Nabi lalu kencing di salah satu bagian masjid.

Para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. Namun tidak demikian sikap Nabi Saw., beliau bersabda kepada para sahabat:“Jangan, janganlah engkau menghentikan kencingnya.”

Lalu Nabi Saw. membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. Setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi Saw. menghampiri badui tadi. Beliau Saw. bersabda dengan penuh kelembutan: “Wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat).”

Melihat kelembutan Nabi Saw., si badui tadi lantas berdoa: “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami (para sahabat).”

Nabi Saw. kemudian bersabda: “Jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu.”

Nabi Saw. lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur air kencing tersebut. Beliau Saw. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan yang lainnya).

“Paparan Al-Habib Ali Al-Jufriy Tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang Benar”



Imam al-Ghazali Ra. mengatakan bahwa ada 3 sifat yang harus diterapkan dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah:

Rabu, 30 Oktober 2013

Wahai Gadis Ku ...........

Segala pujian ku panjatkan kepada Yang Maha Kuasa dan dengan nama-NYA ku mulai surat ku ini. Selawat dan salam ku hulurkan kepada junjungan besar baginda Rasulullah SAW, keluarga dan sahabatnya. Dan dengan panduannya ku atur risalah ini... khas untuk mu wahai gadis!.....

Sesungguhnya aku tidak tahu benar tentang dirimu wahai gadis ku. Aku sedar, ilmu ku tentang tubuh lahir mu tidak lebih daripada pakaian pembalut tubuh mu. Jauh, jauh sekali untuk aku memahami tubuh batin mu yang berupa emosi, fitrah akal dan jiwa halus mu. Ku akur kekurangan ku tentang mu, maka di awal surat ku ini ku susun sepuluh jari meminta maaf dari mu, kalau-kalau pena ku terlanjur melukai hati mu, atau mencemarkan kesucian fitrah mu, atau meleset daripada hakikat diri mu.

Aku tahu sewajarnya orang yang sehormon dengan mu yang menulis tentang diri mu. Bukan aku! Orang yang berlainan hormon. Biar pun demikian, aku gagahi jua jari-jari ku untuk mencoretkan secebis bingkisan buat mu, kerana aku pun tahu yang engkau begitu kepingin menatap coretan ku. Sementelahan pula aku bukan menyingkap tabir jasad mu, bukan mencungkil rahsia diri mu, apalagi mengkoreksi lahir batin mu. Apalah salah ku, kalau aku aturkan kata-kata ku di sini untuk memaparkan cetusan perasaan dan pendapat ku yang sering timbul tenggelam dalam benak ku. Dan, kalau sesekali aku tersinggung tenang diri mu berdasarkan nas Tuhan ku dan Tuhan mu, atau nabi ku dan nabi mu, kau tentu menerima bukan?

Wahai Gadisku.....................

Ketika aku mengingati kalimat berikut ini..... (wahai sekalian manusia, takutilah kamu akan Tuhan kamu yang menjadikan kamu dari tubuh yang satu) An-Nisa’ ayat 1. Atau... ..(sesungguhnya wanita itu saudara seibu sebapa kaum lelaki) Wanita: Dr. Mustafa Assiba’iy m/s 15, riwayat Ahmad. Sering kali aku merungut tentang kejahatan sebahagian lelaki. Mereka tak ubah seperti binatang atau lebih sesat. Aku tertanya-tanya ke mana perginya perasaan mereka terhadap saudara sendiri? Apakah mereka lupa bahawa orang yang tidak bersimpati itu tidak akan dikasihi? Apakah mereka ketandusan sifat kemanusiaan mereka, atau memang mereka kehilangan sifat itu?... Ah, aku cukup jengkel tentang mereka!

Ada kalanya aku juga terfikir kenapa perempuan sering kali menjadi mangsa lelaki? Dan bukan lelaki yang menjadi mangsa perempuan? Atau .... lelaki juga menjadi mangsa?!!! Mangsa runtuhan nafsu! Mangsa pengongkolan adat! Mangsa penyakit sosial! Mangsa perempuan jalang! Dan mangsa penipuan dan godaan syaitan! Ah, aku kesal.

Wahai Gadisku............

Aku turut bimbang, kau yang ku cintai juga menerima angka giliran pemangsa-pemangsa itu. Umpama ramai gadis-gadis kini yang mula berjinak-jinak dengan jerat pemangsa, akhirnya mereka menjadi mangsa! Paling tidaknya mangsa cinta! Peringkat awalnya hanya mahu main-main cinta kononnya mahu mengecap nikmat cinta! Sesudah sekian lama, cinta itu menjadi barah yang tidak mampu dirawat lagi. Akhirnya ia terlantar di wad ‘pesakit cinta’. Aku teringat ungkapan bapak HAMKA dalam sebuah bukunya.... “cinta itu suatu penyakit. Tetapi orang yang ditimpanya tidak mahu lagi sembuh! Ganjil bukan?”

Bukan juga kalimat itu. Orang yang diserang demam cinta, atau dijangkiti penyakit cinta jangan diusik-usik. Tak usah dirawa-rawat. Nanti orang yang merawat menjadi mangsa korban orang yang sakit cinta. Kenapa? Kenapa orang yang ditimpa penyakit cinta merasa segar dengan lamunan cintanya, nikmat dengan khayalan cintanya! Apabila kesegaran dan kenikmatannya dicerobohi, tentu saja ia akan bangkit mempertahankannya. “Mempertahankan hak peribadi”, katanya. Padahal kalau dihitung masa bercintanya yang menelan usia bertahun-tahun, atau mungkin puluhan tahun, tentu kita insaf betapa banyaknya umur muda yang kaya dengan kekuatan minda dan tenaga akan lenyap dalam api yang membakar. Kesiannya! Kesiannya orang itu! Dia terpaksa memasuki alam dewasa dengan kekayaan api cinta tetapi kehilangan erti dewasa. Dia hidup dengan bara-bara cinta bersama kekosongan ilmu di dada!

Inilah yang aku takut! Inilah yang aku bimbang!

Jangan-jangan kita juga menjadi mangsa cinta!

Apatah lagi apabila aku terkenangkan peringatan Tuhan kita Yang Maha Agung di dalam surah Az-Zukhruf (perhiasan) ayat 67 yang bermaksud: “Teman-teman akrab pada hari itu, sebahagiannya menjadi musuh kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” .......... jangan-jangan dikau yang ku cintai di alam ini tanpa restu Tuhan, menjadi musuh di akhirat kelak. Dan aku yang kau senangi di dunia ini menjadi kejahatan mu di hari kiamat nanti. Oh! Alangkah ruginya jika, bercinta sementara merana selama-lamanya!

Dan kepahitan yang lebih awal daripada itu ialah keterlanjuran yang tak mampu dikawal iaitu ketika nafsu berkuasa. Saat itu, akal akan kalah dan terpinggir. Aku takut, aku bimbang kalau-kalau gadis ku rebah dalam pelariannya lalu disambar helang kelaparan..... maka ia akan kalah dan gugur di atas kelemahannya sebagai perempuan, atau di atas kesilapannya membuka gawang!

Sekali ia kalah dan gugur itu mengandungi tiga kali kalah dan gugur. Kekalahan dirinya sendiri sebagai wanita bermaruah buat selama-lamanya, kekalahan ayah ibunya yang melahirkan dan membesarkannya dengan keringat dan darah, dan kekalahan zuriatnya untuk menjadi penyambung generasi yang berhemah.

Aku takut cinta bisa memusnahkan harga dirimu dan nilai keperempuananmu di dunia sebelum memusnahkan jasadmu dan jiwamu di akhirat.

Wahai Gadisku.........

Biarlah kita bercinta tanpa berkenalan dan tanpa bertemu, semoga kita menjadi dua sejoli di syurga Allah. Biarlah aku tidak pernah mengenali dan melihatmu untuk menghidupkan cinta kita, asal saja kita boleh bersama di bawah payung Allah di saat tiada lagi payung selain payungNya.

Bukankah kau juga mahukan nikmat cinta yang abadi? Nikmat sejati? Semoga nikmat cinta kita yang tidak kesampaian hari ini menjadi kenyataan di hari akhirat nanti.

Biarlah aku mencintaimu tanpa mengetahui namamu siapa. Biarlah aku menyayangimu tanpa mengenali rupa wajahmu. Dan biarlah kau juga seumpamaku.....

Dalam pada itu, aku amat senang mencipta namamu dan melukiskan rangka rupa parasmu. Aku amat senang menamakan kau Fatimah Az-Zahra’ atau Maryam Al-Butuul, atau Nasibah, atau Rabi’ah Adawiyyah, atau Zainab Al-Ghazali atau Hamidah Qutb dan seumpamanya. Nama-nama seperti ini cukup indah padaku seindah ‘rupa paras’nya yang menawan.

Biar kupetik secebis ‘rupa paras’ mereka untuk modelmu.

Nama Rabi’ah Adawiyyah sesungguhnya amat cucuk dengan ‘rupa paras’ berikut ini: ‘Suatu hari Hasan Al-Basri bersama dua orang sahabatnya bertandang ke rumah Rabi’ah Adawiyyah dengan tujuan meminangnya untuk salah seorang daripada mereka. Rabi’ah Adawiyah menyambut hasrat mereka itu dengan baik, tetapi dengan syarat mereka mestilah dapat menjawab soalan yang dikemukakan olehnya. Rabi’ah bertanya: “Berapa banyakkah nafsu lelaki dan berapa pula nafsu perempuan?” Lantas Hasan Basri menjawab: “Nafsu lelaki hanya satu, manakala nafsu perempuan sebanyak sembilan nafsu.” Lalu Rabi’ah pun menyambut jawapan itu dengan katanya: “Jika benar demikian, kenapa kamu yang bernafsu satu tidak mampu menahannya sedangkan aku yang mempunyai sembilan nafsu sanggup berbuat demikian?” Mendengar jawapan paku buah keras itu, Hasan Basri pun berlalu pergi bersama sahabatnya sambil menangis sehingga membasahi janggut mereka.

Wahai Gadisku..........

Rupa paras Rabi’ah Adawiyyah yang menarik ialah dua bibirnya yang cukup manis dengan hiasan warna kekuatan kalimah dan maksudnya.

Tentulah kau tahu, bahawa kekurangan nafsu itu mampu dipertahankan oleh seorang gadis sepertimu dengan sifat ‘malu’........ satu-satunya sifat yang ada untuk membelenggu nafsu dalam penjaranya. Malulah yang menjadi benteng pertama dan terakhir untuk menjaga maruahmu, maruah keluargamu dan maruah zuriatmu. Malu itulah yang menjadi kata hikmah para nabi dahulu seperti sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud: “Apabila kau tidak malu, buatlah apa yang kau mahu.” Dengan kata lain, apabila kau kehilangan sifat malumu, kau boleh melakukan apa saja yang kau mahu sekalipun kerja itu seberat-berat kerja dan sejahat-jahat perbuatan.

Bila kau tidak malu, kau boleh membuang seluruh pakaianmu!

Bila kau tidak malu, kau boleh menyebut secemar-cemar bahasa!

Bila kau tidak malu, kau boleh melacurkan seluruh hidupmu, keluargamu bahkan zuriatmu! Wal’iaazubillah! Sebenarnya kau amat sedar tentang akibat orang yang kehilangan sifat malumu. Kesian dia! Di dunia dihina, di akhirat merana.

Wahai Gadisku..................

Bukankah namamu Rabi’ah Adawiyyah yang berupa paras seperti kupaparkan itu? Kalau demikian, kaulah gadis pilihanku itu.

Cukuplah dulu, secarit rupa parasmu yang menawan hatiku ini. *****a di sini, aku ingin benar menukilkan beberapa bentuk rupa parasmu yang perlu kau ukirkan,dan sedikit resepi yang penting untuk menjaga badan dan ‘diet’ jiwamu agar menjadi gadis yang paling cantik di duniaku:

Pertama: Jadilah permata bukan kaca, atau emas bukan loyang, atau sutera bukan benang.

Diet yang pertama ini memerlukan bahan-bahan mentah yang asli, bukan tiruan. Tentulah bahan-bahan asli terdiri daripada perkara-perkara berikut:

a) Ikhlas hati kepada Allah
b) Bersikap benar dalam segala keadaan.
c) Tetap pendirian dalam perjuangan.
d) Menurut jejak langkah Rasulullah s.a.w. atau hidup dalam lingkungan syara’.
e) Sentiasa redha dengan qada’ Allah.
f) Gigih berikhtiar sebelum bertawakal/berserah diri.
g) Meninggalkan jauh segala sifat-sifat nifak atau kepura-puraan.

Apabila bahan-bahan itu diadun baik, pastinya kau kelihatan sebagai sebutir permata di tengah-tengah pepasir, bukan kaca yang bakal cair mengalir. Biarlah pakaianmu ditenun dengan taqwa. Biarlah make-upmu dicampur dengan senyum mesra. Dan biarlah gerak langkahmu disulam dengan rendah diri sentiasa.

Kedua: Jadilah ubat bukan penyakit, atau mawar bukan racun. Ramuan ubat tentulah bahan-bahan yang kebanyakannya pahit. Atau sekuntum mawar tidak mudah dipetik. Namun ia amat berguna. Ramuan ubat hendaklah disatukan daripada bahan-bahan berikut:

a) Sabar yang indah dalam menempuh tribulasi/mihnah/ujian. Tahan senafas!
b) Bersedia ditegur dan dikritik kerana orang yang berlapang dada itulah yang akan meningkat tinggi. Wau yang tinggi ialah wau yang sanggup menempuh angin bukan menurut angin!
c) Banyak memberi bukan menerima. Sudah tentu sebelum memberi perlu memiliki, sebab orang yang tidak punya sesuatu tidak mampu memberi sesuatu Berkhidmat dulu, hasil menyusul kemudian.
d) Sentiasa berfikiran besar dan mengatur persekitaran menjadi kelas pertama.
e) Bertindak mencari kejayaan dan mencipta peluang, bukan bersedia memberi alasan untuk sebuah kegagalan.
f) Membuang segala sifat orang-orang kecil sejauh mungkin, iaitu membuang masa, banyak menguruskan hal-hal kecil dan suka bertengkar dan berdebat.

Semua ramuan di atas berupa sabar, lapang dada, berkhidmat, berfikiran besar, bertindak dan membuang sifat orang-orang kecil merupakan ubat dan mawar kehidupan cemerlang.

Ketiga: Jadilah penyuluh bukan pembunuh.

Nama resepi ini sudah cukup menggambarkan betapa menariknya kuah hidangan. Jernih, tetapi berkilauan apabila tersentuh sedikit cahaya. Pantulan cahayanya kuat, mudah menerima sinar dan tembus oleh sinar itu. Antara bahan yang diperlukan ialah:

a) Ibadah syakhsiyyah.
b) Nasihat dan kata hikmat.
c) Budi pekerti dan adab sopan berharga.
d) Panduan sirah dan hadis-hadis Rasulullah s.a.w.
e) Petunjuk Allah yang utama iaitu Al-Quran yang mulia.

Adunan bahan-bahan itu menjadikan tenaga dinama yang berkualiti, cas yang sentiasa hidup, sesiapa yang berada dalam kegelapan tentu memerlukan sinar cahaya, maka inilah sinarnya untuk menyuluh jalan hidup; Al-Quran, Al-Hadis, Akhlak, Nasihat dan Ibadah.

Cubalah, kau akan jadi penyuluh. Kalau bukan penyuluh maka yang lainnya tidak ada lagi selain pembunuh.

Keempat: Beberapa peringatan.

Senjata lidah ialah bahasa.

Jadilah orang yang pandai berbahasa, kau akan hidup aman bahagia.

Jadilah orang yang berakal minda, kau akan meraih kejayaan dan banyak harta.

Lidah yang petah memerlukan perbendaharaan kata yang banyak, latihan yang berterusan dan berani membuktikan identiti mendalam dan pengalaman hidup sendiri.

Dengan ini aku kira cukuplah ‘diet’ atau penjagaan diri yang kau perlukan untuk menjadi gadis yang rupawan dan ratu pilihan hatiku. Berusahalah ke arah itu, sesungguhnya serbat yang kukumpulkan itu bisa menjadikan wajah hidupmu bersinar bagaikan bulan purnama, berkedip bagaikan bintang surayya. Indahnya kau menjadi sebutir permata di tengah-tengah serpihan batu yang bertaburan.

Wahai Gadisku..................

Buat akhirnya, jutaan kemaafan kupinta seandainya surat ini mengganggu ketenteraman. Jutaan kemaafan juga kupinta seandainya terdapat di dalam suratku ini kesiapan yang tidak dapat kutemui. Besarlah harapanku daripadamu wahai gadis, agar kau bersedia menjadi seorang kekasih untuk kekasihnya, seorang sahabat dalam perjuangan dan seorang ibu kepada anak-anak yang baik.

Dan....ingatlah bahwa:

“laki-laki yang berzina tidak mengahwini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikahwini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” (An-Nur: 3)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji(pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yangbaik(pula).....” (An-Nur: 26)

Sekian, buatmu wahai gadis...........................

Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi / sosmed Lainnya

Assalamualaikum wr.wb. Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah P...